Lihat ke Halaman Asli

bertha niken

Mahasiswa aktif S1 Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Universitas Airlangga

Budaya Literasi Rendah? Pengoptimalan Perpustakaan Desa Solusinya

Diperbarui: 31 Mei 2022   09:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Suatu bangsa dikatakan maju ditentukan dari beberapa aspek, salah satunya berasal dari aspek pendidikan, yang mencakup seberapa tinggi tingkat literasi dalam negara tersebut.

Pihak UNESCO menjelaskan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah mengenai literasi di dunia, yang berarti bahwa tingkat minat baca di Indonesia sangat rendah. Menurut data UNESCO, tingkat minat baca di Indonesia sangat memprihatinkan, diibaratkan hanya 0,001%.

Yang berarti, dari 1,000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki sifat gemar membaca (Devega, 2017). Melalui data tersebut, dapat di ambil kesimpulan bahwa budaya literasi di Indonesia masih rendah, dan pengoptimalan perpustakaan untuk menarik minat masyarakat juga masih kurang.

Peningkatan literasi akan sangat membantu peningkatan pengetahuan dalam masyarakat. Hal ini tentunya perlu didukung denga suatu sarana dalam memenuhi peningkatan literasi tersebut.

Sarana yang akan sangat membantu peningkatan literasi dalam lingkungan masyarakat yaitu Perpustakaan Desa. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001, mengungkapkan bahwa diperlukan adanya perpustakaan Desa / Kelurahan sebagai wadah belajar untuk masyarakat guna mencerdaskan dan memberdayakan, serta menunjang pelaksanaan pendidikan masyarakat secara nasional.

Perpustakaan desa merupakan bagian dari pemerintahan desa yang memiliki ruang lingkup paling kecil diantara segala pemerintahan yang ada di Indonesia, dan juga memiliki peran paling penting dalam masyarakat, karena pemerintahan desa dan perpustakaan desa merupakan pemerintahan yang paling dekat dan langsung berdampingan dan berada dalam lingkungan masyarakat. 

Perpustakaan desa juga bersifat umum yang memiliki arti bahwa perpustakaan desa tidak terikat pada usia, profesi atau pekerjaan, dan pendidikan.

Namun, dapat kita lihat bahwa masih banyak perpustakaan desa yang terbengkalai, bahkan masih ada beberapa desa yang tidak memiliki perpustakaan desa. 

Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab buta aksara dalam masyarakat dan redahnya minat literasi di Indonesia. Padahal, membaca juga menjadi salah satu kunci utama seseorang dalam memperoleh informasi dan pengetahuan.

Menurut Survei yang dilakukan pada tahun 2020 oleh Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan bahwa presentasi jumlah penduduk buta aksara di Indonesia mengalami penurunan dari 2019 ke 2020 kurang lebih sebesar 7 persen. Jumlah penduduk buta aksara di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 1,71 persen atau sekitar 2.961.060 orang dari total jumlah penduduk. Sedangkan pada 2019, mencapai 1,78 persen atau 3.081.136 orang dari total jumlah penduduk (Kasih, 2021).

Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa banyak penduduk Indonesia yang masih mengalami butaaksara, terutama di daerah Papua. Tentunya, disini peran Perpustakaan Desa harus dioptimalkan dalam memberantas buta aksara di Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline