Lihat ke Halaman Asli

Balqis Tatashela

Mahasiswa Universitas Airlangga

Peran Gaya Hidup Vegan dan Vegetarian dalam Mewujudkan Sistem Pangan yang Berkelanjutan

Diperbarui: 4 Juni 2023   11:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar : National Geographic Indonesia

Gaya hidup vegan dan vegetarian di Indonesia mengalami tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan oleh Karim Taslim selaku Wasekjen dan Humas Indonesia Vegetarian Society (IVS). Tren tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan bertambahnya industri yang menyediakan produk ramah vegan dan vegetarian.

Pada dasarnya, veganisme merupakan sebuah filosofi yang menerapkan gaya hidup bebas dari eksploitasi hewan. Berbeda dengan vegetarian yang masih mengonsumsi produk olahan hewan, seperti susu, bulu, dan madu, vegan menghindari semua jenis produk hewani karena produk-produk tersebut dianggap sebagai bentuk eksploitasi manusia terhadap hewan. 

Istilah veganisme pertama kali diciptakan oleh Donald Watson di Inggris pada tahun 1944. Seiring dengan berkembangnya zaman, tepatnya pada tahun 2019, veganisme mulai dipopulerkan oleh para pendukung vegan di sosial media. 

Para pendukung vegan melakukan berbagai upaya dan kampanye untuk memperkenalkan gaya hidup vegan pada masyarakat luas. Pada tahun tersebut, veganisme mulai berkembang dan komunitas vegan mulai dibentuk di beberapa negara.

Gerakan kampanye vegan dan vegetarian menuai respon yang beragam dari berbagai pihak. Sebagian orang memberikan respon acuh tak acuh, tetapi tidak sedikit pula yang memberikan respon negatif. 

Respon negatif ini umumnya dikarenakan adanya perbedaan keyakinan, kurangnya pemahaman, dan sikap sebagian kaum vegan yang memaksakan ideologinya dengan melakukan perusakan dan penyerangan pada kaum nonvegan.

Meskipun demikian, terlepas dari adanya pro dan kontra, gaya hidup vegan dan vegetarian berpotensi mendominasi masyarakat di masa mendatang.

Potensi berkembangnya veganisme di masa depan tak lepas dari adanya urgensi penanganan pemanasan global. Salah satu faktor pemicu terjadinya pemanasan global adalah peningkatan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida. 

Pada umumnya, orang-orang menganggap bahwa peningkatan gas rumah kaca disebabkan oleh asap kedaraan, penebangan hutan, dan faktor-faktor lainnya. Akan tetapi, tidak banyak orang menyadari bahwa sistem pangan saat ini memberikan kontribusi besar dalam peningkatan pemanasan global.  Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Food and Agriculture Organisation (FAO), lebih dari sepertiga emisi gas rumah kaca dihasilkan oleh sektor agrikultur. Hewan ternak, khususnya sapi, menghasilkan gas metana hingga 14,5% dari total emisi gas rumah kaca. Gas metana ini merupakan gas yang berperan besar dalam peningkatan pemanasan global karena memiliki kemampuan memerangkap panas di atmosfer 20-30 kali lebih kuat dari pada karbon dioksida. Selain adanya urgensi pemanasan global, tren vegan juga dapat semakin berkembang seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan di masa mendatang. Kebutuhan pangan yang terus meningkat dengan tidak diikuti bertambahnya jumlah lahan membuat perlu adanya efisiensi dalam sistem produksi pangan.

sumber gambar : pribadi

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline