Lihat ke Halaman Asli

Triple Burden of Malnutrition, 3 Masalah Gizi yang Menghantui Indonesia Emas 2024

Diperbarui: 3 September 2024   13:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://pangandangizi.com/

Indonesia sebagai negara berkembang terus mengusahakan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan sebagai langkah meraih Indonesia Emas 2045. SDM yang berkualitas dapat meningkatkan potensi perkembangan nasional dari segala aspek. Namun, sudah tidak menjadi rahasia bahwa Indonesia juga masih dihantui oleh masalah kesehatan yakni masalah gizi yang mengancam peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam negeri.

Masalah gizi tersebut sering disebut dengan istilah 'Triple Burden of Malnutrition (TBM)'. Sesuai namanya, tiga masalah gizi ini terdiri dari gizi kurang (stunting dan wasting), gizi lebih (overweight dan obesity), dan defisiensi mikronutrien (hidden hunger). Semua masalah gizi tersebut adalah masalah yang umum, telah tersedia banyak sekali informasi seputar tiga malnutrisi ini meliputi penyebab dan solusinya. Tapi akan kita jabarkan sedikit pengertian dari ketiga masalah gizi di atas.

Sumber: Nestle Nutrition Institute 2023

  • Gizi kurang/undernutrition; kondisi ini adalah kondisi ketika tubuh kekurangan intake energi dan protein atau kurang energi protein (KEP) berat yang menyebabkan seseorang menderita stunting atau wasting. Tubuh mereka biasanya lebih pendek dari anak seusianya, ataupun terlalu kurus dengan berat badan rendah dan lingkar lengan atas kecil.
  • Defisiensi mikronutrien/hidden hunger; kondisi ini adalah kondisi ketika tubuh kekurangan intake mikronutrien vitamin dan mineral seperti zat besi, vitamin A, zink, asam folat, dan vitamin B12. Akibatnya, hal tersebut memicu penyakit lanjutan seperti anemia zat besi, anemia megaloblastik, gangguan penglihatan, dan lain lain.
  • Gizi lebih/overnutrition; kondisi ini adalah kondisi dimana tubuh kekurangan nutrisi yang benar-benar dibutuhkan tubuh tetapi kandungan energi dalam intake terlalu besar, yang menyebabkan penumpukan lemak berlebih dan kenaikan berat badan (overweight dan obesitas).

Prevalensi ketiga masalah gizi ini berfluktuatif namun cenderung tinggi apabila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Sumber: Asia Pathways 2022

Grafik dari Global Health Observatory WHO yang diakses oleh Asia Pathways tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia yang berada dalam kawasan southeast asia mempunyai prevalensi tertinggi untuk masalah gizi kurang (wasting dan underweight) serta kedua tertinggi untuk masalah stunting. Keadaan ini menunjukkan masih kurangnya perjuangan bangsa kita melawan triple burden ini.

Penyebab umum triple burden of malnutrition ada pada pola makan dan faktor sosial-ekonomi masyarakat. Pola makan yang buruk (yang mungkin juga akibat pengaruh lingkungan) menjadi penyebab utama karena berkaitan langsung dengan intake nutrisi seseorang. Ketidakseimbangan sosial-ekonomi juga berpengaruh, termasuk di dalamnya akses terhadap bahan pangan, ketersediaan bahan pangan di suatu daerah, serta kemampuan fiansial dalam mencukupi kebutuhan asupan sehari-hari.

Lalu, apakah pemerintah sudah memberikan tanggapan untuk tiga masalah gizi ini?

Triple burden of malnutrition sudah seperti 'belenggu' bagi negara kita dan 3 penyakit ini terus berada dalam perhatian pemerintah dari tahun ke tahun. Jadi tentu saja telah banyak imbauan yang masyarakat dapatkan terkait dengan penanganan masalah-masalah gizi ini. Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama dengan 19 K/L (Kementrian/Lembaga negara) lain telah bekerja sama dalam kegiatan roadshow percepatan penurunan stunting di 14 provinsi prioritas yakni NTT, Sulawesi Barat, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Aceh, Sulawesi Utara, Papua, Papua Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Utara. Komitmen dan dukungan semua pihak terkait dengan imbauan penanganan obesitas juga dilakukan yang mencakup kebijakan pembatasan dan pengendalian asupan gula, garam, lemak (GGL) pada makanan, edukasi konsumen untuk memperhatikan asupan GGL, serta pemantauan berat badan secara teratur.

Penegasan lain ada pada konsumsi suplemen vitamin dan mineral terutama tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil sebagai pencegahan defisiensi mikronutrien. Pemerintah juga sedang mendorong upaya fortifikasi beberapa bahan pangan seperti minyak goreng, tepung, dan beras. Dampak negative mungkin ada pada kenaikan harga bahan baku, tetapi fortifikasi juga dinilai membawa manfaat terutama bagi pemenuhan gizi mikro yang diperlukan masyarakat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline