Lihat ke Halaman Asli

Ayu Novita Pramesti

penggemar tahu, kucing, dan buku

Selalu Ada Cerita Tentang Papua

Diperbarui: 7 Maret 2021   14:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perjalanan Dinas ke Keerom, Papua, November 2018

"Pak, dari Papua ya?"
"Iya."
"Dimana Papuanya?
"Jayapura."
"Saya sempat ke Jayapura. Sebentar aja. Tapi saya sudah pernah ke  Keerom. Waktu itu, ke sekolah di Waris."
"Wah, udah sampai Waris!? Saya saja belum pernah ke sana..."
"Iya Pak, walau nggak bisa tidur semalaman di pesawat dan pas mendarat langsung pergi ke Waris itu, saya tetap mau kembali ke Papua."

Begitu kurang lebih isi percakapan saya dengan seorang rekan sejawat di kantor. Kulit dan rambutnya mudah dikenali. Khas orang Papua. Saya baru berkenalan dengan bapak beranak satu ini. 

Dalam obrolan singkat itu, beliau menyampaikan kepada saya bahwa ketika ada tugas monitoring dan evaluasi (monev), beliau selalu diberikan kesempatan untuk pulang ke kampungnya di Jayapura.

Keesokan harinya, pembicaraan soal Papua berlanjut. Lagi-lagi, saya yang membuka pembicaraan. Ada bapak pengurus organisasi kemasyarakatan yang mengalami kendala teknis di aplikasi. Bapak itu baru saja selesai membahas anggaran programnya untuk peningkatan kompetensi pendidik. Sambil menunggu kejelasan, saya berbincang agak lama dengannya.

"Pak, nanti programnya di Tambrauw ya?
"Betul,Bu Ayu. Barangkali nanti Bu Ayu yang monitoring ke sana."
"Wah, iya! Boleh juga ke Tambrauw, Papua Barat. Saya belum pernah ke sana. Baru sampai Papua."
"Tapi siap-siap ya Bu...jalannya masih rusak. Mobil masih suka selip. Kalo selip, bisa-bisa bermalam di perjalanan."

Dalam hati, waduh menantang juga ya kalau sampai ditugaskan ke Tambrauw :)

Pembicaraan berlangsung semakin seru. Saya menyampaikan bahwa sedikit mengetahui kondisi Tambrauw karena telah membaca hasil penelitian rekan saya di LIPI mengenai Pendidikan di Papua Barat. Ada banyak masalah pendidikan di Tambrauw, terutama tingkat ketidakhadiran guru yang tinggi. Akibatnya, satu guru bisa mengajar beberapa kelas. Apa yang saya sampaikan, dibenarkan oleh bapak yang ternyata pernah mengajar di Sorong Selatan itu.

"Iya, Pak..semenjak saya pernah dinas ke Papua, saya cukup perhatian dengan Papua. Alasan saya sederhana. Jangan sampai nanti kalau mau ke Papua harus pakai paspor (Papua sampai lepas dari Indonesia). Kalau kita sudah baik dengan orang Papua, mereka juga akan baik kepada kita."

"Benar Bu, orang Papua itu baik sekali.  Waktu kejadian rasis di Jawa, ada orang asli Papua yang selalu mengawal saya kemana-mana. Mereka tidak ingin saya disakiti karena saya orang Jawa. Selain itu, anak-anak Papua juga pintar-pintar."

Itulah Papua. Selalu ada cerita unik tentangnya...

Saya Indonesia. Saya Cinta Papua.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline