Francesca Adhiguna
Selama masa pandemi ini aku sekolah online, dan ini pengalaman-ku yang aku tulis untuk salah satu tugas menulis.
Keadaan ini pertama diumumkan di Indonesia pada sekitar bulan Maret tahun 2020. Aku mengetahui itu dari berita, orang tua dan teman-teman. Waktu aku mendengar ada pandemi itu aku masih sekolah tatap muka. Aku merasa takut ketika mendengar adanya pendemi.
Dan akhirnya, aku harus bersekolah di rumah pada kelas 3. Pertama kali aku berpikir kalau sekolah online seru karena bisa belajar dengan cara baru serta memakai komputer dan aplikasi. Namun sekarang aku merasa sekolah online membosankan karena aku tidak bisa bertemu dengan teman-teman. Di sisi lain, orang tua aku merasa lega karena aku tidak perlu pergi ke sekolah, sehingga memperkecil resiko aku terkena penyakit corona. Aku harus menyiapkan laptop, buku-buku, alat tulis, dan handphone untuk sekolah online.
Awal-awal sekolah online aku merasa senang karena tidak harus ke sekolah dan melakukan banyak pekerjaan. Menurutku teman-temanku merasakan hal yang sama dengan aku. Aku mempunyai banyak kesulitan dengan sekolah online, contohnya susah mengerti pelajaran, koneksi guru atau murid yang bicara jelek, gambar di zoom putus-putus, zoom tidak bisa digunakan, suara di zoom hilang dan orang tuaku membantu ku mengatasi kesulitannya.
Saat ini aku merasa sekolah online itu menjadi tidak produktif dan membosankan. Aku harap semua bisa kembali normal dan aku bisa belajar di sekolah kembali.
Charlotta
Di masa pandemi sekolah online tidak seru karena tidak bisa ketemu teman dan guru, membosankan, dan kadang jaringan internet-nya jelek.
Sudah hampir 2th tidak ke sekolah... kangen banget rasanya. Kangen bermain dan ngobrol sama teman-teman, kangen lari-lari di lapangan sekolah. Kangen ketemu sama guru-guru.
Walaupun belajar di rumah lebih santai , tapi saya lebih senang belajar di sekolah bersama teman-teman. Karena belajar dirumah tidak seperti belajar di sekolah, kalau di sekolah banyak waktu untuk bertanya ke bapak ibu guru dan teman-teman.