Dia datang membawa pelita saat langit murung. Setitik cahaya menerangi hati yang sedang mutung
Suaranya datang dari timur. Bawa cinta agar mimpi-mimpi tak mudah pecah dan gugur. Padahal ia sedang memupuk impian agar tak tumbuh retak pada tanah tempatnya berpijak
Kukenal perempuan itu di dunia maya pada taburan seribu aksara. "Ini sekeping harap, karena itu yang kupunya," katanya tanpa rasa curiga
Bagiku itu bukan sekeping, tapi sepuluh, seratus, beribu-ribu, bahkan sejuta kebaikan. Seperti mata air yang memancar pada lahan-lahan yang kering
Membaca perempuan itu, kurasa, tak cukup dengan puisi ini
***
Lebakwana, Juli 2021
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H