Lihat ke Halaman Asli

Augie Ryanrahman

mahasiswa, gemar merangkai abjad tuk dijadikan jamuan, saya sedang menjalankan studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pandangan Demokrasi dari Kacamata Islam Terutama Pemilu

Diperbarui: 30 Oktober 2023   20:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Politik dalam disiplin ilmu politik Barat terhubung dengan serangkaian gagasan, seperti masyarakat, sistem hukum, kekuasaan, kepentingan publik, dan pemerintahan. Ini adalah proses mendalam dalam pemahaman dan penerimaan nilai-nilai dalam pertentangan, penyesuaian, kesepakatan, dan penyelesaian konflik realitas yang tidak memiliki batasan.

Sebab itulah beberapa orang Barat menggambarkan politik sebagai seni peluang. Beberapa orang menjelaskan itu sebagai seni yang berasal dari trik, kebohongan, dan ketidakjujuran. Ada juga yang berpendapat bahwa agama harus dipisahkan dari negara, yang pada dasarnya mengarah pada pemisahan Islam dari politik.

Beberapa orang kemudian menyebut ini sebagai seni mengatur dan mengelola manusia dan objek. Menghadapi berbagai sudut pandang, mungkin ada kesepakatan untuk menerima definisi tersebut. Namun, dalam praktiknya, para politisi mampu mewujudkan definisi tersebut dengan cara yang cerdik untuk mengendalikan dan memperoleh keuntungan dari orang lain.

Karenanya, hingga saat ini, politik masih dipenuhi dengan makna pengekangan, penghinaan, pemaksaan, kontrol, dominasi, dan kepemimpinan yang tidak adil.

Dalam konteks ini, kita perlu memahami prinsip-prinsip dan norma-norma etika politik yang sesuai dengan Islam. Etika politik dalam Islam merujuk pada serangkaian prinsip dan aturan yang harus diterapkan dalam menjalankan aktivitas politik. Dalam konteks ini, etika politik dalam Islam mempengaruhi tindakan politik yang positif.

Dengan metode tersebut, aspek moralitas melebihi kontrol pribadi, dengan niat untuk mengatur kehidupan dalam masyarakat dan mengarahkannya ke arah yang positif dalam konteks politik dan urusan bersama.

Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa politik yang dia terapkan didasarkan pada nilai-nilai moral dan kebajikan, termasuk yang berlaku bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Menurut cerita Fadil bin Yasar, Abu Abdullah berkata kepada beberapa sahabat Qais Al Masir bahwa Allah SWT benar-benar mendidik nabi-Nya dengan tuntas dan sempurna. Kemudian, setelah masa pelatihan selesai, Ia berkata, "Sebenarnya Engkau (seseorang yang terhormat) memiliki sikap yang sangat luar biasa." Setelah itu, Ia memberikan tanggung jawab agama dan negara kepada orang tersebut agar dapat mengatur hal-hal yang berkaitan dengan umat-Nya.

Politik dalam Islam tidak menjadi penyebab konflik antara kelompok manusia. Politik bertujuan untuk menjaga kesetaraan bagi semua individu, tanpa memandang perbedaan. Ketika membuat keputusan dalam urusan politik, tidak ada sikap bias dan tidak ditujukan untuk menjauhkan pihak lain.

Isi tersebut dijelaskan dalam kitab suci Alquran, sebagaimana tertera dalam Surat An Nahl ayat 90, yang menyampaikan bahwa Allah menganjurkan kita untuk bersikap adil dan melakukan perbuatan baik, membantu keluarga, serta melarang perbuatan jahat, keburukan, dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada Anda supaya Anda dapat memperoleh pengajaran.

Dalam catatan Anas RA, Nabi Muhammad SAW menekankan agar kita tidak saling bermusuhan, saling menghasut, saling mengabaikan, dan saling memutuskan hubungan kekerabatan. Menjadi individu yang saling berhubungan layaknya anggota keluarga. Seseorang yang beriman tidak diizinkan mengabaikan saudaranya lebih dari tiga hari.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline