Pecel Lele, Matematika, dan Rahasia Semesta
Malam itu dingin setelah hujan. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu-lampu kota. Selesai Sholat Isya berjamaah di Masjid kampus di Jatinangor, saya dan tiga sahabat kuliah mampir ke warung tenda pecel lele di pinggir jalan.
Ketika masuk ke warung tenda itu, kami disambut senyum segar Mas Penjual Pecel Lele.
"Pesan apa nih, Aa-Aa?" sapanya ramah.
"Saya Ayam!," kata Isep dengan percaya diri.
Saya langsung menimpali, "Hah... Loe ayam, gue kira alien!"
Kami ngakak bareng, termasuk Mas Pecel yang sampai geleng-geleng kepala.
"Maksudnya, saya pesan pecel ayam," kata Isep sambil nyengir.
Setelah Isep selesai, giliran Usep yang angkat suara. "Kalau saya pecel tempe, Mas. Tapi sambelnya ekstra ya, saya butuh energi buat nangkep alien kayak Isep."
Atep menyusul dengan nada serius yang sok bijak, "Saya pecel telur, Mas. Soalnya hidup ini butuh protein dan keseimbangan."
Semua langsung menoleh ke saya. "Nah, kalau loe, Sep? Jangan bilang loe pesan aneh-aneh lagi."
Saya tersenyum dan menjawab mantap, "Pecel ayam, tanpa sambel pecel."