Lihat ke Halaman Asli

Cerpen: Selamat

Diperbarui: 24 November 2020   23:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

"Bang, bisa bantu saya? Motor saya mogok." Seorang pria menghentikan motorku yang sedang melaju menuju rumah. Baru saja aku selesai kerja kelompok di rumah teman, menyelesaikan maket miniatur. Tugas yang tidak mudah, membuatku menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. 

Melihat arloji, malam sudah berada pada pukul sebelas. Jalan raya yang hanya diterangi lampu ini pun terasa sepi. Aku merapatkan jaket, melihat ke sekitar. Tidak ada tanda-tanda orang lain lewat.

"Motornya di mana? Coba saya lihat dulu." Kasihan dengan keadaan pria berperawakan dua puluh tahunan tersebut, aku memutuskan untuk membantu.

"Ayo ikut saya, Bang." Pria itu menuntun ke tempat motornya yang berada beberapa ratus meter di depan. Di tempat yang lampu penerangannya tidak menyala. Lebih gelap.

"Tolong bantu, Bang. Sudah malam, tidak ada orang yang lewat,"

Tanpa melepas helm, aku mengamati motor pria itu dan mulai memeriksa. Ketertarikan dengan dunia otomotif dan beberapa ilmu tentang mesin yang kumiliki juga menjadi alasanku untuk bersedia membantu. Motor pria itu memang tidak bisa menyala.

"Ada masalah dengan businya." Aku menyimpulkan setelah melihat busi motor yang kotor dan berkarat. Busi motor yang sudah tua tentu bisa menyebabkan motor mogok dan sulit dinyalakan.

Namun, tidak ada tanggapan dari pria itu. Aku menoleh dan mendapati ada dua pria lain yang datang. Bersama dengan pria pemilik motor, mereka mendekat dan mengelilingiku. Mungkin bantuan lain sudah datang.

"Sepertinya sudah ada bantuan lain. Sudah larut, saya izin untuk pulang ya." Pelajar sekolah menengah yang pulang nyaris tengah malam, orang rumah pasti akan mengkhawatirkanku. Langsung saja aku menaiki motor dan bersiap menyalakannya.

"Kenapa buru-buru? Lihat isi tasnya dulu, boleh, dong?" Pria yang tadi meminta pertolongan merangkul bahuku.

Aku tertegun. Terperangah dengan keadaan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline