Lihat ke Halaman Asli

Arolina Sidauruk

Waktu itu sangat berharga

Pada Tahun Kesehatian

Diperbarui: 15 Oktober 2022   18:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Tanggal 8 Oktober 2022   waktu lalu, ada  suatu cerita  yang sangat mengesankan. Pada hari itu adalah puncak Tahun Kesehatian dari  Umat Kristiani khususnya  jemaat HKBP di seluruh dunia.

 Tahun Kesehatian adalah suatu program HKBP yang sudah direncanakan dan bertujuan untuk melakukan pelayanan terhadap Jemaat HKBP. Kesehatian memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga kesehatian dapat menyatukan persepsi  dari seluruh  Jemaat. Kesehatian sejatinya tidak menonjolkan keegoisan, namun lebih kepada kebulatan tekad untuk bersama-sama  mewujudkan program-program umum di HKBP.

Mengacu kepada visi Tahun Kesehatian tersebut, masing-masing Resort HKBP diseantero Dunia khususnya di Indonesia mewujudkannya dengan berbagai kegiatan.  salah satu contoh  yang kami laksanakan di gereja , antara lain  : Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan melalui : Pemeriksaan Gigi dan cek darah. 

Seminar kesehatan dan melakukan jalan santai per keluarga. Nah... disinilah cerita ini mulai muncul. melalui Topil di Kompasiana yang kebetulan    Topik nya jalan kaki,  yang mau saya tuliskan.   memang kalau boleh jujur, saat ini orang sudah mulai malas berjalan kaki. karena kita   dimanjakan,   berbagai racun kenderaan. 

Kalau mau kesono, ada gojek, kalau mau kesini ada fasilitas lain, apalagi orang yang sibuk bak gasing, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berjalan kaki, rasanya  sayang melewatinya   dengan  santai ,  sehingga ketika suatu waktu kaki ini harus dipaksa berjalan, maka yang ada pastilah Keseleo dan keram.

Tapi pengalaman yang saya jalani di tahun kesehatian kemarin adalah suatu muzijat, selama ini saya jarang berjalan kaki, kalau mau ke pasar, ada motor...kalau mau sport dengan teman-teman takut keram tiba-tiba.

Dengan modal nekad dan kesepakatan dengan suami, kami mencoba mengikuti jalan santai di kegiatan tersebut, dan berjanji kalau ditengah jalan salah satu dari kami mengalami keram, harus berhenti dan ceng ( kata orang Medan )  dengan mengambil rute sekitaran Gereja,  dihitung lebih kurang 2km, kami pun beramai-ramai ,bercengkerama dan bercanda dengan teman lainnya. tidak terasa sekitar 45 menit kami sudah tiba kembali di Gereja. 

Lanjut senam massal...yang membuat suasana semakin heboh. saya tetap membayangkan malam nanti kaki kami pasti keram, apalagi saya dan suami sudah usia  kepala 5. ehh.. ternyata hingga saya menulis cerita ini, kaki saya baik-baik saja, malah membuat rencana akan melakukan jogging tiap sabtu disekitaran komplek rumah. 

Yang mau saya katakan  sebenarnya  sebaiknya   kita harus rajin jalan kaki, memang benar,   saudara kita Tionghoa  sangat perduli dengan kesehatannya. hal itu bisa dilihat di setiap persimpangan jalan pagi dan sore hari mereka pasti ada, usia tidak menjadi penghalang, mereka tetap semangat, sementara kita orang yang sibuk terus menerus,  yang seperti mengejar langit, sangat sungkan melakukan jalan kaki, malah ada yang malu. 

Padahal menurut arahan dokter bahwa  Gerak jalan adalah salah satu jenis kegiatan fisik yang diajarkan dalam pendidikan jasmani yang berguna untuk melatih otot kaki. 

Melalui Seminar yang dilaksanakan di tahun kesehatian kemarin, ternyata jalan kaki dipagi hari mempunyai manfaat mencegah penyakit jantung dan stroke, kegiatan ini dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolestrol serta memperlancar sirkulasi darah.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline