Lihat ke Halaman Asli

Arman Syarif

Pencinta kopi dan sunyi

Aksara-aksara Ricuh

Diperbarui: 1 April 2019   14:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Aksara-aksara ricuh membubung tinggi hitamkan langit Nusantara, melayang bersama awan mendung. Menyulut api amarah hendak melahap ikatan sesama. Meski tetap tersisa, tapi hadirkan sekat-sekat di bilik asa yang telah lama terajut.

Aksara-aksara ricuh memantik kerusuhan koyakkan bingkai perbedaan. Timbul tenggelam di antara celah sinar matahari pagi, memenuhi udara siang ruang negeri. Napas pun dibuat sesak sesekali.

Tak menyerah. Aksara-aksara itu jua menyusup di kaki langit senja, ikut mencicipi sinar lembutnya. Dan ketika senja utuh terbenam, ia tinggalkan aksara bernada kerusuhan dan menusuk ketentraman batin.

Malam hening pun jadi korban. Di atas cakrawala yang dikuasai cahaya temaram, ia tetap mengukir untaian aksara, menyempurna dalam bait-bait yang membelah tali perkawanan.

(Catatan langit, 1/4/2019)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline