Lihat ke Halaman Asli

Dicky Armando

Orang Biasa

Kisah Takziah

Diperbarui: 5 Juni 2023   10:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Foto: Pixabay.com

Suatu sore, beberapa waktu lalu, sejumlah teman masa SMA menghubungi saya untuk mengonfirmasi tentang kabar meninggalnya seseorang.

Sejak lulus SMA, akhir tahun dua ribu lima, saya menjadi semacam "pusat informasi" yang berhubungan dengan mantan sekolah yang sangat kami cintai itu, karena rumah orang tua saya yang paling dekat. Loncat pagar langsung sampai.

Namun berjalan waktu, saya pun harus pindah demi mencari rumah pribadi untuk keluarga kecil saya, sehingga kabar-kabar tentang mantan sekolah dan teman-teman tanpa sengaja terputus.

Oleh karena itu, saya sendiri terkejut ketika kawan-kawan lama bertanya tentang kebenaran kabar meninggalnya seorang teman kami yang bernama Pram (bukan nama sebenarnya). Namun saya mencoba bertanya kepada banyak sumber termasuk guru-guru kami. Singkat cerita bahwa kabar mengenai Pram adalah benar adanya.

Saya menyampaikan kepada teman-teman di grup WA tentang kabar tersebut. Ada pula beberapa rekan yang saya kabari secara langsung. Uniknya adalah bahwa hanya sedikit orang yang bereaksi. Ada pula yang merespons, tapi terasa biasa saja, tak tampak tanda-tanda simpati soal kehidupan.

Lama saya berpikir, ternyata beginilah dunia. Benar kata orang, ketika kita meninggal, tersisa hanya amal mendampingi. Sementara itu yang lainnya melanjutkan hidup, beberapa di antaranya masih bersedih, sebagian lagi sekadar mengenang saja, kemudian orang yang meninggal akan benar-benar terkubur di dalam waktu dan lupa. Dalam hati saya bertanya-tanya: "Untuk apa berlelah diri membangun citra di hadapan manusia?"

Sungguh sia-sia ....

Maka setelah salat isya, saya segera bergegas melakukan takziah ke rumah duka si Pram. Sampai di sana sudah ramai, sepertinya pihak masjid dan keluarganya sudah mulai membaca doa. Saya menunggu di luar sembari memerhatikan siapa saja yang datang. Kebanyakan tidak saya kenali.

Hati saya menjadi gembira karena ternyata banyak orang, tidak termasuk teman-teman SMA kami, yang datang mendoakan Pram dan menguatkan keluarganya. Sungguh pemandangan yang mengharukan.

Setelah menunggu beberapa saat, sekitar dua puluh orang, teman-teman SMA akhirnya datang untuk menyatakan belasungkawa kepada pihak keluarga Pram. Orang-orang ini, kalau dihitung-hitung, telah lama tak pernah saya temui. Barangkali kami belasan tahun tak pernah bertemu lagi sejak acara kelulusan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline