Cerita sebelumnya Pusaka Negeri Ujung Tanduk #1
Tiba tiba saja ruangan menjadi terang benderang dan terlihatlah sesosok manusia sudah berdiri dihadapan kami. Dia menuntun kami melewati terowongan menuju ke sebuah pemukiman yang terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan sangat modern.
Akhirnya dengan susah payah kami berhasil menembus masuk ke pemukiman. Dari penduduk setempat, mereka menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari “beberapa bulan” yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari.
Dari sanalah kami memastikan bahwa memang benar kitab itu berada di perkampungan itu. Dalam tempo singkat kami sudah sampai di gerbang depan dan waw... bagaimana mungkin sebuah kota yang megah dengan arsitektur mewah dikatakan oleh penduduk setempat sebagai sebuah perkampungan.
Setelah kami bertemu dengan pemimpin mereka barulah dapat kami mengerti apa sebabnya mereka menganggap kota ini sebagai sebuah perkampungan. Ternyata dengan teknologi yang mereka miliki mampu mengubah bentuk sesuai dengan yang mereka inginkan. Setelah melewati sebuah diskusi dan perdebatan yang panjang akhirnya pemimpin mereka rela menyerahkan kitab pusaka negeri ujung tanduk.
Dengan mangajukan sebuah syarat "Apabila nanti ada seseorang putra/putri terbaik dari warga negeri ujung tanduk yang perduli dan amanah, maka kitab pusaka Negeri Ujung Tanduk akan dikembalikan. Ling Ling dan Miray singh menjawab pasti. Akhirnya dengan diiringi linangan airmata penjaga kota negeri Ujung Tanduk melepas kepergian kami sambil mengucapkan sebuah syair
Negeri yang terkenal kaya nan megah
Dengan sejuta pesona yang dimilikinya
Kini harus kehilangan kitab pusakanya
Ketika nafsu sudah menjadi raja dihati
Pusaka negeri pun harus berpindah tempat lagi
Menunggu putra/putri yang tepat untuk membawanya kembali
Menghidupkan lagi negeri yang hampir mati
Ahh.... Desah nafas sesal berkecamuk didada penjaga kota terlarang. Sekian lama menunggu tetap tidak dapat menemukan pilihan yang tepat, hingga akhirnya pusaka negeri pun harus berpindah tempat.
NUT°10042014
gambar: id.indonesia.travel
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H