Lihat ke Halaman Asli

Aris Heru Utomo

TERVERIFIKASI

Penulis, Pemerhati Hubungan Internasional, kuliner, travel dan film serta olahraga

"Bohemian Rhapsody" dan Kisah Vokalis Gay

Diperbarui: 13 November 2018   20:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

credit: getty images

Zaman saya masih sekolah menengah pada awal hingga pertengahan tahun 1980an, ada dua poster grup band yang dipasang di kamar saya, yaitu Queen dan The Police. Khusus Queen, selain poster, saya pernah punya kaset berisikan lagu-lagu dari grup itu.

Hampir semua lagu-lagu Queen saya suka, termasuk tentu saja lagu Bohemian Rhapsody yang merupakan sebuah lagu berdurasi enam menit yang ditulis Freddie Mercury pada tahun 1975 untuk album Queen yang berjudul A Night at the Opera.

Pada pertengahan tahun 1980-an beberapa lagu Queen kembali mencuat, apalagi setelah Queen menyanyikannya pada konser kemanusiaan untuk Ethiopia "LIVE AID" yang dikomandani Bob Geldof pada tahun 1985. Beberapa stasiun radio di Jakarta masih kerap memutar Bohemian Rhapsody, selain lagu-lagu Queen lainnya.

Bohemian Rhapsody merupakan sebuah lagu fenomal dari Queen yang menjadi favorit sepanjang zaman. Setiap kali mendengarkan lagu ini, saya semakin penasaran terhadap tafsir yang ingin disampaikan sang penulis lagu. Penafsiran terhadap lirik pada lagu ini sangat terbuka dan pencipta lagunya sendiri tidak pernah menjelaskannya hingga akhir hayatnya.

Mencoba menikmati Bohemian Rhapsody, saya mencoba menafsirkan lirik lagu tersebut. Di lirik lagu tersebut diceritakan tentang nasib seorang anak yang terperangkap dalam bayang-bayang kehidupan dan tidak bisa melepaskan diri dari kenyataan. Namun tidak jelas siapa sesungguhnya si anak tersebut. 

Tapi dengan mengaitkannya dengan akhir tragis kehidupan Freddie Mercury yang meninggal karena AIDS dan membaca referensi, patut diduga bahwa anak tersebut sesungguhnya adalah Freddie Mercury sendiri.

Sebagai seorang yang awalnya memiliki kehidupan normal dan kemudian menjadi gay alias LGBT, ia merasa telah pergi dan menyia-nyiakan kehidupan sebelumnya serta sudah terlambat untuk kembali. Ia pun akhirnya pasrah, baginya, kemanapun angin bertiup dan semua yang terjadi tidak ada yang penting,

Terlepas dari apapun tafsiran terhadap Bohemian Rhapsody, saya sangat senang ketika mengetahui bahwa Bohemian Rhapsody dibuatkan filmnya dan menjadi judul film yang mengisahkan karir grup band asal Inggris itu.

Melalui film tersebut saya berharap antara lain bisa menonton aksi Queen di atas panggung dan menikmati kembali lagu-lagunya, mengetahui tafsiran Bohemian Rhapsody dari pencipta lagunya dan kisah mengenai kenapa Freddie Mercury terkena AIDS. Tapi tentu saja saya tidak berharap film Bohemian Rhapsody seperti film India yang aktor/aktrisnya selalu menyanyi setiap melihat tiang atau batang pohon.

Seusai menonton film Bohemian Rhapsody pada Minggu 11 November 2018 di sebuah bisokop di pusat kota Mexico City, saya merasa bahwa beberapa harapan saya tersebut di atas terwujud dan beberapa lainnya tidak terwujud

Harapan bisa menonton aksi Queen di atas panggung dan menikmati lagu-lagunya jelas terwujud sejak awal pemutaran film. Sejak adegan pembukaan yang menampilkan Freddie Mercury berjalan menuju panggung dan siap tampil saat konser Live Aid 1985, Bohemian Rhapsody sudah menjanjikan akan munculnya banyak lagu-lagu Queen. Apalagi penampilan fisik Rami Malik yang berperan sebagai Freddie Mercury terlihat sangat mirip ketika kamera menyorot cara jalan Freddie Mercury menuju panggung.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline