Lihat ke Halaman Asli

Aris Munandar

Foto : Aris Munandar saat sedang berkunjung ke kantor Kepala Staf Presiden

Parodi di Tengah Pandemi: Kebijakan Naik, Ekonomi Lesu, Daya Kritis Ikut Menurun

Diperbarui: 25 Mei 2020   03:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi

Jakarta - Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) merupakan momok yang sangat menakutkan. Bagaimana tidak, kehadiran makhluk yang tak kasat mata ini bak monster karena mampu menjangkit siapa saja tanpa kenal ampun, baik masyarakat biasa sampai pejabat pemerintahan sekelas menteri pun ikut tumbang dibuatnya. Sebagaimana diketahui bahwa Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi sempat koma setelah poisitif Corona.


Sejak di umumkan pertama kali pada tanggal 2 Maret-23 Mei 2020, setidaknya sudah 20.796 orang terbaring sakit (positif), 5.079 lainnya berhasil diselamatkan (sembuh). Namun 1.326 tak dapat diselamatkan (meninggal dunia). Belum dipastkan kapan bencana ini akan segera berakhir.

Tetapi kasus tersebut akan semakin bertambah jika pemerintah dan semua pihak tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan. Hal itu ditegaskan oleh Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bahwa akan ada gelombang kedua.

Melihat jumlah kasus di atas yang makin memprihatinkan, jurnal Melbourne Asia Review menilai bahwa Indonesia merupakan Negara terburuk se-Asia Tenggara dalam penanganan Covid-19.

Worldometers mengumumkan, sudah lebih dari 5 juta (5.188.656) pasien positif yang terkonfirmasi per Jum'at 22 Mei 2020. Akibat ganasnya wabah mematikan ini, ekonomi suatu Negara menjadi lumpuh yang sulit dikendalikan, tak peduli Negara miskin, berkembang, bahkan Negara super power sekaliber Amerika Serikat sekali pun kewalahan mengahadapi darurat pandemi ini. Semua keok tak berkutit.

Pun demikian dengan Indonesia kini tengah mengalami kesulitan ekonomi, bahkan akibat darurat Covid-19 ini sebagian kalangan menilai melebihi krisis moneter tahun 1998 silam.

Akibatnya PHK massal menjadi pilihan terburuk bagi perusahaan swasta, baik berskala nasional maupun multi nasional hingga menyebabkan kelaparan. Sebagai upaya untuk penyelematan ekonomi nasional, pemerintah telah menggelontorkan anggaran yang cukup fantastis, yaitu sebesar 405 triliun.

Meski demikian, Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan per 20 April 2020, lebih dari 2 juta buruh (2.084.593) di sektor formal terpaksa harus menelan pil pahit akibat PHK massal yang terdiri dari 116.370 perusahaan. Kemudian setidaknya 528.385 buruh di sektor informal terdiri dari 31.444 UMKM mengalami nasib yang sama.

Alih-alih ingin menggalang donasi lewat acara konser amal yang ditayangkan secara virtual (live) melalui TVRI dan direlay oleh sejumlah stasiun televisi tanah air, malah berujung mengecewakan sekaligus menertawakan. Kocak, semua tertawa terbelalak setelah diketahui pemenang lelang motor listrik "Gesits" yang dibubuhi tanda tangan presiden RI Joko Widodo itu tak kunjung dibayar.

Usust punya usut, ternyata M. Nuh, sang pemenang lelang bukanlah seorang pengusaha sebagaimana di umumkan oleh panitia acara. Namun faktanya seorang pria paruh baya asal Jambi itu hanyalah seorang pekerja serabutan alias buruh harian lepas, sehingga tidak memungkinkan untuk membayar motor impian yang nilainya cukup fantastis tersebut, yakni senilai 2,55 milyar.

Bagaikan parody, yang membuat sejumlah orang tak bisa menahan tawa, karena pria 43 tahun itu tidak mengetahui motor itu adalah lelang. Tetapi justru M. Nuh mengira bahwa motor tersebut merupakan hadiah untuk dirinya. Padahal dalam kesempatan itu, presenter Wanda Hamidah selaku panitia acara memastikan bahwa identitas pemenang sudah melalui verifikasi berulang-ulang. Kok bisa kecolongan gitu ya, acara yang diselenggarakan oleh lembaga negera sekelas BPIP-MPR.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline