Lihat ke Halaman Asli

Alexander Arie

TERVERIFIKASI

Lulusan Apoteker dan Ilmu Administrasi

Nggak Lagi-lagi, Deh!

Diperbarui: 25 Juni 2015   01:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagaimana rasanya 8 tahun tidak melihat rumah, tidak melihat orang tua, tidak melihat kampung halaman? Silahkan tanya ke Bapak saya. Delapan tahun adalah bilangan yang menggambarkan itu. Tahun 1989, saya dibawa mudik ke Jogja dari Bukittinggi bersama adik lelaki saya (yang waktu itu) satu-satunya. Delapan tahun berikutnya, Bapak mudik membawa keluarganya yang sudah berwujud rombongan dengan tambahan dua adik saya yang lain, satu cowok dan satu cewek.

Jadilah, tahun 1997 itu, keluarga kami yang terdiri dari 6 orang memulai sebuah perjalanan mudik yang jauh minta ampun. Waktu itu saya baru 10 tahun dan merupakan anak tertua. Adik saya berturut-turut berusia 9, 7, dan 2 tahun. Dan bagian terbaik dari semuanya adalah: kami menempuh perjalanan Bukittinggi-Jogja via DARAT. Dan silahkan bertanya bagaimana rasanya membawa 4 bocah dalam perjalanan sepanjang itu ke orang tua saya :)

Pulang ke rumah kakek dan nenek (saya memanggil mereka Mbah) adalah eksitasi anak kecil. Apalagi sudah sangat lama saya tidak ke Jogja. Jadi ketika Bus Gumarang Jaya kelas Ekonomi nampang di depan mata, yang ada hanya perasaan bersemangat minta ampun. Bus-nya berformasi 2-3, bertahun kemudian saya sadar kalau itu sempit sekali. Itu setelah saya merasakan enaknya naik bus Super Executive 2-1 via Pantura dan Jalur Selatan. Hehe..

Perjalanan ini nggak mudah. Ketika bus mulai berkelok-kelok menyusuri danau, rasanya sudah tak tertahan pusingnya. Obat ternama yang mengandung dimenhidrinat segera disiapkan oleh orang tua saya demikian pula dengan kantong plastik. Yah, namanya juga anak-anak. Untunglah, saya berhasil tidak muntah dan kemudian hanyut dalam lelap.

Berikutnya bus itu berhenti di daerah Sawah Lunto untuk makan siang. Hmmm, bagian terburuk dari perjalanan mungkin adalah bagian makan ini ya. Harga makanan di jalur bus ini mahal minta ampun dengan porsi yang sedikitnya minta ampun juga. Jadilah, sekeluarga ini hanya menyantap sepiring cincang, karena sesuai pengalaman, perhitungan didasarkan pada jumlah piring yang disentuh. Jadi kalau ada piring isi 2 ayam, dan cuma dicomot 1 ayam, maka itu dihitung dua ayam. Edan tenan kok.

Selanjutnya? Saya semakin menyadari bahwa perjalanan ini akan membosankan. Sepanjang jalan yang tampak hanya pohon saja. Jalur lintas Sumatera pada tahun itu benar-benar sunyi. Ya kalau nggak pohon, ada lagi sih, jurang. Selain itu, ada juga, sungai besar. Ya semacam itulah kira-kira.

Makan malam dilakukan di daerah Jambi, entah kota mana. Dan sesudah itu, bus akan bersiap memasuki jalur maut. Apa itu? Sesuai perintah kru bus, maka ketika kendaraan besar ini sudah memasuki jalur Lahat-Lubuk Linggau, seluruh jendela ditutup (sekadar mengingatkan, ini bus ekonomi :p) plus seluruh gorden juga menutupi jendela. Katanya sih, jalur ini rawan bajing loncat, perampokan dan sejenisnya. Beruntung saat itu saya nggak mengalaminya. Ada sih mengalaminya tapi dalam perjalanan lintas Sumatera yang lain lagi :)

Di pagi hari, tahu-tahu sudah Lampung. Saya bangun dengan hamparan kebun di kiri dan kanan. Sesekali ada rumah-rumah dengan kata-kata yang saya ingat "bertapis" dan lanjutan dari kata itu berbeda di setiap kabupaten. Semoga nggak keliru ya.

Siang hari bolong, tidak cukup lama sesudah makan siang, sampailah bus di pelabuhan Bakauheni. Bus ini akan menyeberang ke Jawa via Selat Sunda. Cuaca cerah karena itu bulan Juni, lagi terik-teriknya malah. Saya mulai menderita karena ini bus ekonomi dan jendela dibuka sehingga seluruh asap knalpot kendaraan aktif keluar masuk bus yang saya naiki. Mata ini rasanya pedih sekali. Satu jam lamanya derita ini terjadi sebelum kemudian bus masuk ke lambung kapal dan penumpang diminta turun dari bus dan memasuki tempat penumpang.

Dan kenapa judul tulisan ini adalah seperti yang tertulis di atas?

Ini dia kisahnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline