Lihat ke Halaman Asli

Ari Budiyanti

TERVERIFIKASI

Lehrerin

Biolanya Mengalunkan Nada Cinta, pun Hatiku Padanya

Diperbarui: 9 Oktober 2021   14:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photo by Ari

Selama sepekan ini, Senin hingga Jumat para siswa di sekolah tempatku mengajar akan menempuh ujian akhir semester. Semua soal sudah siap. Tugas administrasi yang menunggu hanya tinggal mengoreksi dan memasukan nilai.

Sore ini kubawa satu kantong kertas berisi hasil ujian mereka yang akan kukoreksi di taman bunga. Sambil berharap pemain biola yang kini sudah kutahu nama akan datang lagi. Tentu saja bersama musiknya. 

Dan memang benar, tak lama dari waktu ku duduk di sudit taman bunga itu, dia datang ke tempat biasanya. Todak terlalu jauh dari tempatku duduk. Melempar sentum manisnya. Melihatku sibuk, tak ada sapa darinya. Hanya duduk menggenggam biolanya yang siap dimainkan. Mungkin dia sudah usai bekerja sepertiku.

Aku menikmati lagu-lagu romantis yang dimainkannya. Tak lupa lagu Serenade Franz Schubert juga selalu dimainkannya. Dia selalu mengahayati semua alunan musik yang dimainkannya. Membuatku lupa harus lanjut mengoreksi jawaban di kertas-kertas ujian siswa. 

Selalu ada tepuk tanganku setiap dia mengakhiri lagunya. Dan dia akan mengangguk pelan penuh santun tanda terimakasihnya. Lalu pada lagu penghujung dia mainkan satu alunan yang tak ku tahu. Apakah ini lagu cinta? Tak ada jawab dari dia saat kutanya. Dia hanya bilang "PR buat bu guru ya" Sambil tersenyum cerah. "Any clue please?" Dia hanya menggeleng. 

Sejenak kami berbincang tentang konser yang kemarin kami lihat bersama. Iya berkat Dika yang kupikir sengaja merencanakannya. Bagaimana tidak, Anthony ini kakak sepupunya. 

Anthony yang sering kusebut dengan kata dia sebelumnya, nampak sangat bahagia sore ini. Entah karena apa. Tapi aku rasa aku juga sama. Saat dia mulai mengisahkan tentang musik-musik kesukaannya. Aku kadang menimpali dengan musik yang ku tahu. Meski tak banyak. Tapi setidaknya pembicaraannya bisa kuikuti. Karena buku-buku yang sempat kubaca juga. 

"Buku apa yang paling kamu suka, Laras?" Pertanyaan Anthony berganti topik saat tahu aku bisa mengikuti pembicaraannya dari buku-buku yang kubaca. "Biografi. Karena dengan membaca kisah biografi, aku belajar tentang kehidupan nyata yang dijalani tokoh-tokoh yang kisqh hidupnya kubaca. Termasuk para musisi klasik yang sekaligus Komposer dunia. Aku jadi tahu juga beberapa karyanya. Apa karya terbaik. Kalau penasaran tinggal searching aja di you tube. " lanjutku tanpa jeda saat orang menanyakan tentang bunga. 

Sama seperti saat Anthony membicarakan musik yang seolah telah menyatu dengan dirinya. Tak bisa disela. Meluncur indah membuatku hanyut dengan suara merdunya. Astaga aku rasa aku mulai jatuh hati padanya. Menjelang malam tak terasa bagi kami yang dalam.sekejap sudah akrab berbicara. Makasih ya Dika. Batinku. 

Anthony memutuskan mengantarku pulang rumah malam itu. Sebentar saja berbincang sebelum dia pulang. Dan saat dia pergi, entah mengapa hati ini mendadak sudah rindu saja. Ingin hariku segera berganti esok dan menjadi sore hari saat kami bisa bersama lagi di taman bunga. 

Malam itu ponselku berdering. Ada nama Dika pertanda dia di penelepon.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline