Lihat ke Halaman Asli

Mbah Ukik

TERVERIFIKASI

Jajah desa milang kori.

Makna Simbolis Nasi Tumpeng

Diperbarui: 28 Februari 2020   16:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Bumi Nusantara yang luas dengan ribuan pulau, suku, bahasa, budaya, serta adat istiadat yang beraneka macam memang kaya dengan nilai-nilai simbolis yang menggambarkan keselarasan hidup antara manusia dengan lingkungannya termasuk para leluhur serta dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Dalam budaya Jawa, Sang Pencipta dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi atau asal mula kehidupan.

Kali ini penulis, menjelaskan arti salah satu nilai simbolis dalam budaya Jawa, yakni: nasi tumpeng. Sering kita diundang dalam sebuah acara keluarga, seperti ulang tahun (Jawa: saat weton), sunatan, kenaikan pangkat, lulus sekolah, atau peresmian sebuah bangunan, atau pesta desa, di mana saat akan dimulai diadakan doa dan makan bersama yang diawali dengan pemotongan nasi tumpeng.

Sering terjadi pertanyaan, kok memakai nasi tumpeng. Sebenarnya lebih baik nasi rawon, nasi soto, nasi pecel, atau nasi goring saja biar tidak ribet. Pertanyaan ini bukan hanya terlontar dari kaum muda tetapi juga kaum tua yang tidak mengerti budayanya sendiri.

Nasi tumpeng merupakan nasi yang dibentuk secara mengerucut dengan ketinggian antara 20-40cm lalu ditaruh di tengah tempeh (Indonesia: nyiru). Bagian atasnya ditutup dengan contong daun tetapi juga tidak ditutup, serta ujungnya diberi hiasan kupasan cabai merah.

Di sekitar nasi tumpeng diletakkan aneka lauk dan sayur tradisional, seperti: orem-orem tahu tempe, rempeyek, ikan asin, perkedel, mendhol (adat Jawa Timur), daging ayam, telor, dan sayurnya berupa urap-urap dengan aneka macam sayur.

Gunung atau menara? Dokpri

Tumpeng semesta. Dokpri

Lengkap, tapi takir sebagai lambang lumbung pangan keluarga seharusnya tidak ditaruh di tumpeng. Dokpri

Makna simbolis.

Nasi tumpeng yang mengerucut adalah gambaran gunung yang tinggi tempat di mana diyakini Sang Pencipta berada di atas ketinggian (pengetahuan dan kekuatan) manusia. Bagian atas yang ditutup daun merupakan bagian paling sulit dijangkau manusia karena licin dan penuh tantangan. Sebagai manusia kadang bahkan sering kala kita ingin semakin dekat dengan Sang Pencipta justru sering terperosok dalam keangkuhan diri dan godaan. Ingat kisah Pendawa Lima yang akan memasuki swargaloka melalui puncak Mahameru yang berhasil hanya Yudhistira, sulung Pendawa. Lainnya gagal karena dosa.

Lauk pauk dan sayur mayur atau semua masakan (tradisional) yang ditaruh di bawah sekitar nasi tumpeng merupakan gambaran hasil bumi baik pertanian dan pekebunan serta peternakan yang diupayakan manusia di bumi Nusantara yang subur.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline