Pernah negeri ini di mana hanya satu stasiun televisi yang dapat disaksikan oleh jutaan warganya, yakni Televisi Republik Indonesia (TVRI).
Periode di mana rakyat Indonesia mendapat suguhan tayangan yang terkemas apik oleh tangan tangan kreatif pengasuh TVRI, televisi yang dibiayai oleh negara. Begitu pula di kampung saya, nyaris di ujung Timur Sulawesi Selatan.
Kala itu, medio tahun 80 -an kampung saya hanya bisa menyaksikan tayangan televisi di rumah seorang warga yang cukup mampu membeli pesawat televisi, hitam putih.
Guna menangkap siaran, dikumpulkanlah pemuda kampung kami, menyambung empat batang bambu. Setiap sambungan, terikat erat menggunakan kawat agar dapat berdiri kokoh dan mempan oleh terpaan angin.
Pada ujung paling atas, antena televisi yang terbuat dari aluminium diikat lebih kuat menggunakan kawat. Maka beramai ramailah kami mendirikan bambu itu, semata-mata ingin menyaksikan orang berbicara melalui layar televisi, orang-orang bergerak dari Jakarta pulau Jawa.
Perlu berjam jam lamanya, kami menemukan gambar, itupun kata orang-orang di kampung, "gambar berpasir". Tiga hingga empat orang memegang bambu, menahan tiang antena agar tidak tumbang. Memutar sesenti demi sesenti, lalu sang pemilik televisi dan saya duduk asyik depan layar televisi menunggu orang-orang berbicara melalui layar itu.
Degup jantung berdetak, tak sabaran menanti teknologi masuk ke kampung kami, Labawang Kabupaten Wajo. Pertama kali yang kami dapat rasakan, adalah suara.
"Wowww...." seisi rumah kegirangan, suara orang melalui layar kotak berbalut besi dan layar kaca itu mulai terdengar. Degup jantung semakin tak keruan, menunggu wajah-wajah orang bergerak.
"Stop stop stop, gambar sudah jernih". Begitu perintah tuan televisi pada mereka yang memutar tiang bambu untuk menemukan siaran TVRI. Hebat negeri kami, seperti kata Iwan Fals, "Sejak Palapa mengorbit ke angkasa, kemajuan teknologi ku semakin berkembang".
Orang-orang kampung seperti saya ini dapat menyaksikan Elias Pical bertanding tinju melawan lawan-lawannya, meng KO melalui tangan kirinya, pula bisa menyaksikan Mike Tyson menjatuhkan James Buster Douglas, bisa pula melihat Rhoma Irama bernyanyi dan konser, dan macam-macam lah.
Setiap sekali sepekan, kami berkumpul menunggu film Aku Cinta Indonesia (ACI), sebuah film propaganda agar kami lebih bangga dan mencintai negeri ini.