Lihat ke Halaman Asli

Annis Naim

Difafriends, Les Privat Jogja, Magister Pendidikan Luar Biasa UNY

Buta Aksara: Perlu Kerja Bersama

Diperbarui: 11 April 2023   14:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Permasalahan buta aksara di Indonesia masih menjadi isu yang per;u diatasi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, tingkat melek huruf penduduk Indonesia masih sebesar 94,55%, artinya masih ada sekitar 5,45% penduduk yang buta aksara. Salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya tingkat buta aksara di Indonesia adalah keterbatasan akses Pendidikan. Banyak daerah terpencil, terluar, dan terisolir di Indonesia yang sulit dijangkau oleh sarana Pendidikan seperti sekolah, guru, dan fasilitas pendukung lainnya. Hal ini membuat masyarakat tersebut tidak mendapatkan akses Pendidikan yang memadai.

Selain itu faktor ekonomi juga memengaruhi masyarakat memperoleh Pendidikan. Kaitannya dengan masih banyak masyarakat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Tingginya angka putus sekolah juga menjadi factor penyebab buta aksara di Indonesia. Selain itu factor budaya juga memengaruhi tingginya buta aksara.

Tingginya angka buta aksara di Indonesia akan berdampak bagi individu dan masayarakat. Bagi mereka yang buta aksara akan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan yang layak. Selain itu keterbatasan dalam akses informasi dan teknologi sehingga tidak mampu berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan masyarakat.

Apa solusi untuk mengatasi buta aksara di Indonesia? Berikut solusi yang dapat dilakukan. 

Pertama, peningkatan akses Pendidikan. Dalam hal ini pemerintah harus memastikan bahwa semua masyarakat memiliki akses yang memadai ke sekolah dan fasilitas oendudukan lainnya. Selain itu kualitas Pendidikan yang diberikan harus diperhatikan. Berkaitan dengan peningkatan akses Pendidikan maka dapat dilakukan pemberian beasiswa. 

Kedua, pengembangan kurikulum Pendidikan yang relevan. Kurikulum yang relevan mampu memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran untuk belajar. 

Ketiga program pelatihan membaca dan menulis, hal ini dapat dilakukan tidak hanya oleh pemerintah, bahkan sesame masyarakat dapat melakukannya. 

Selama ini sudah ada beberapa Lembaga swadaya masyarakat yang mewadai belajar baca dan menulis, bahkan ada individu. Kemudian yang terakhir adalah kolaborasi. Jika kita sama sama ingin memberantas buta aksara di Indonesia maka diperlukan kolaborasi agar kerja-kerja kita lebih efektif. Kolaborasi dapat dilakukan antara pemerintah, Lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta. Dengan upaya yang terus menerus dan kolaboratif, diharapkan permasalahan buta aksara di Indonesia dapat diminimalisir dan pada akhirnya dapat diatasi secara menyeluruh.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline