Lihat ke Halaman Asli

Anis Contess

TERVERIFIKASI

Penulis, guru

"Sepatu Dahlan," Kepekaan Sahabat pada yang Kekurangan

Diperbarui: 9 Mei 2020   21:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pinterest.com/upikipik

Kagum pada sosok Dahlan Iskan, maka saya menonton film berjudul Sepatu Dahlan, sebagai inspirasi dibuatnya film ini. Meskipun tidak menonton di bioskop pada laga premiere saya sangat ingin mengikuti film itu. Hingga ketika dipariwarakan stasiun layar kaca swasta bahwa akan diputar film itu sebagai salah satu slot tayangan lebaran, kehadirannya betul-betul saya nantikan.

Ada hal lain yang ingin saya ketahui dari seorang Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN era SBY. Selain dari yang pernah saya baca di koran atau tabloid nasional.

Masa kecilnya, potret miskin, kehidupan sekolah, juga pertemanannya dengan 2 lelaki dan 1 perempuan sebagai sahabat dekat. Digambarkan cukup detil oleh Krishna Pabicara lewat novel berjudul sama. Itu ingin saya dapatkan di film, seperti apa jadinya.

Setting masa lalu, muka lugu Dahlan kecil yang diperankan Aji Santosa, betul-betul memikat mata. Karena judulnya mengandung kata Sepatu, maka yang saya amati ya kakinya.

Hebat, dia bisa lincah berlari tanpa alas kaki. Juga meloncat ketika bermain voli. Tak sia-sia Aji kabarnya berlatih "nyeker" alias tidak beralas kaki demi larut dalam perannya sebagai Dahlan kecil.

Aji sukses memerankan tokoh itu. Terlihat dari adegan pembuka yang langsung disuguhi pemandangan perkebunan tebu. Dia bersama sahabatnya Arif, Imran, Kadir, Komariyah dan Fadli sedang berusaha mencuri tebu. Dipergoki sinder, penjaga kebun tebu. Berlari kencang, dikejar-kejar tak berhasil menghindar. Tertangkap.

Sejurus kemudian adegan berpindah pada Dahlan di rumah sedang dipukul dua tapak tangannya oleh sang bapak, diperankan Donni Damara. Amarah juga kecewa mengiringi pukulan sang ayah pada Dahlan. " Ini Ndak Bisa dibiarkan."

Sang ibu, artis kawakan Kinaryosih tak tega, berusaha menghentikan. Pada pukulan yang kesekian, tangannya di arahkan menutup telapak tangan Dahlan yang akan dipukul. Menjadi tameng,"Jangan Pak!"

Kena tongkat kayu tangan sang Ibu. Seketika Bapaknya Dahlan menghentikan, beralih mengkhawatirkan keadaan istrinya yang menahan sakit. Berlalu dari hadapan ibu yang sedang memeluk anaknya.

Setiap hari Dahlan pergi dan pulang sekolah yang jauh, dilakoninya dengan berjalan kaki tanpa alas, tertusuk duri itu biasa. Namun  tak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Terus bersekolah dengan keadaan baju lusuh juga.

Satu  impian sederhana untuk memiliki sepasang sepatu serta sebuah sepeda melecut semangat juang. Bekerja paruh waktu. Menjadi buruh nyeset di kebun tebu. Lepas itu dia ngangon kambing yang dia pelihara, mencari rumput pula. Cukup menyita hari-hari.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline