Lihat ke Halaman Asli

Anis Contess

TERVERIFIKASI

Penulis, guru

Puskesmas Pujon, Malang Menghargai Seni Lewat Pertunjukan Puisi dan Tari

Diperbarui: 17 Januari 2020   12:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Anis Hidayatie/ Ovalya Makarova, doc. pri

Datang dan pergi,  bertemu dan berpisah adalah sunnatullah yang tak bisa dihindari.  Hukum alam ini melekat dalam kehidupan, mewarnai setiap sendi perjalanan manusia. Dari sejak dilahirkan hingga berakhirnya setiap episode perjalanan.

Pertemuan menjadi babak menyenangkan yang bisa membuat kita bahagia karenanya.  Ada tawa,  ada rangkaian cerita kemudian yang selalu mewarnai setiap jalannya,  sesudah bertemu itu.  Saling salam,  sapa, senyum,  dan berkegiatan bersama menjadi hal berkesan yang kemudian sulit untuk dilupakan.

Anis Hidayatie /Ovalya Makarova. doc. pri

Inilah yang saya tangkap dari acara perpisahan. Dari seremoni "PisahSambut", seperti yang tampak pada acara pada 15/01/2019 di Puskesmas Pujon Kabupaten Malang. Kepala Puskesmas yang lama, dr. Wiwit harus berpindah tugas, pamit pada teman sejawat yang telah membersamai selama 5 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama dan membuat simpul hubungan telah merupa saudara.


Kondisi itu menyeruakkan haru pada teman sejawatnya.  Maka dipersembahkanlah sebuah puisi untuk dokter Wiwit.  Untaian rasa paling dalam yang muncul dari dasar sukma merupa kata-kata.  Ya,  puisi memang bahasa hati yang paling pas untuk dipersembahkan dalam acara seperti ini.  

Saya mengapresiasi hal ini sebagai bagian dari penghargaan terhadap karya sastra dan juga literasi. Menampilkan puisi dalam acara acara seremoni,  bisa menjadi jembatan  mengenalkan salah satu kategori karya sastra terhadap orang lain.  

Mereka akan mengenal, menghargai dan bahkan bisa menumbuhkan minat terhadap puisi ini. Bahkan,  bukan tidak mungkin mereka yang hadir bisa terinspirasi berkarya,  sesudah mendengar puisi dibacakan.

Haru biru dirasakan peserta. Puisi itu mampu menimbulkan suasana hening,  mewakili rasa,  menciptakan aura betapa kesan dan kenangan terhadap kawan telah melekat dalam benak mereka,  tak terlupakan.  

Suasana menjadi cair sesudah penampilan lain disuguhkan.  Yakni petunjukan tari Bapang, bagian dari jenis tari topeng Malang. Surprise,  baru tahu kali itu saya.  

Sesuatu yang tak saya duga sebelumnya.  Tentu saja saya jadi terkesima.  Produk seni budaya ini adalah kekayaan khas daerah, yang bisa saja punah bila tak ada yang mau mengangkatnya.  

Untuk itu angkat topi saya berikan kepada penyelenggara acara ini.  Terlihat sepele bagi mata umum. Tapi bagi saya ini istimewa.  Berani menampilkan sesuatu yang tak banyak orang tahu,  termasuk saya. 

Ditampilkannya pertunjukan tari Bapang itu bisa membuat seseorang mengenal tari tersebut. Pun menambah pengetahuan tentang seni tari. Untuk kemudian menjadi bagian lain dari kegiatan melestarikan seni budaya.  

Dari pertunjukan tari tersebut saya jadi tertarik mengetahui apa sih tari bapang itu.  Maka pertanyaan saya lontarkan kepada bu Ovalya Makarova,  bidan puskesmas ketua panitia.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline