Lihat ke Halaman Asli

Kiri

Diperbarui: 23 Juni 2015   21:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

left

Saat peradaban dunia Timur (Islam) menjadi terpinggirkan, Hassan Hanafi mencoba membuat ‘penyeimbang’ untuk melawan hegemoni politis-epistemologis Barat yang telah memposisikan dirinya sebagai superior dan meletakkan dunia Timur dalam tataran inferior. ‘penyeimbang’ tersebut adalah sebuah gagasan bernama oksidentalisme.

Konsep oksidentalisme tersebut sebenarnya salah satu cara Hassan Hanafi masuk dalam ‘perang terminologi’ sebagai penyeimbang orientalisme yang telah lebih dulu digagas pemikiran Barat. Apa yang dilakukan Hassan Hanafi tersebut sejatinya adalah salah satu bentuk perlawanan pemikiran mainstream. Ia tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah ghazwul fikr melawan arus, karna arus (mapan) yang telah ada, memintanya (termasuk manusia dunia Timur lain) untuk menerima keadaannya sebagai ‘the other’.

‘Arus utama‘ memang selalu menjadi ladang nyaman bagi siapapun yang tak punya nyali melawan. Bagi penyokong status quo, melawan arus adalah ‘tindakan brutal‘ yang dapat menghancurkan tatanan kehidupan. Bagi penentang, melawan arus adalah hal yang akan membuatnya tetap merasakan hidup (dan menjadi aktual).

Dalam wacana Hassan Hanafi diatas, ia berusaha mengeluarkan dunia Timur dari ruang kesadaran yang telah terinduksi westernisasi, mendekonstruksi kemapanan dan menyiapkan pemikiran ‘anti-arus’ sebagai alternatif. Dekonstruksi terhadap ruang kesadaran kognitif publik dunia Timur diyakininya bisa membebaskannya dari cengkraman Baratsentrisme dan memberikan pembebasan pada peradaban dunia Timur.

Apa yang dilakukan Hassan Hanafi dalam usahanya menggaagas oksidentalisme dan mendekonstruksi pemikiran publik yang telah akut terkontaminasi pem-Barat-an tersebut dalam wacana politik modern dikatakan sebagai tindakan dan pemikiran “kiri“. Sebuah tindakan yang mencoba mendekonstruksi arus utama atau setidaknya berusaha memberikan alternatif pemikiran dari apa yang telah ada dari status quo.

Berbicara soal “kiri“ memang nampak seperti hal yang menakutkan, bukan karena hakikatnya, namun karena stigmatisasi yang telah tertanam dalam diantara kesadaran realitas sosial. Realitanya, terminologi “kiri“ adalah istilah yang biasa, namun akan menjadi hal luar biasa saat bersinggungan dalam ruang pemikiran politik dan filsafat.

Terminologi kiri selalu diidentikan dengan pandangan Marxisme, sosialisme, komunisme dan isme-isme lain yang “senada” dengannya. Di Indonesia, pasca tragedi G30S PKI, label “kiri“ diarahkan kepada setiap entitas yang berhubungan dengan ideologi komunisme. Karena entitas “kanan“ (baca: Pancasila) dan kaum-ultranasionalistik beranggapan apa yang dilakukan komunisme adalah berusaha mengubah ideologi mapan Pancasila dengan komunisme.

Awal dari pe-monster-an istilah “kiri” setidaknya dapat dilacak dari kemenangan Amerika Serikat CS dalam Perang Dingin melawan Uni Soviet dengan komunisme-sosialismenya. Sebagai usaha untuk mengisolasi dan membendung kekuatan komunis-sosialis Uni Soviet yang waktu itu telah terpecah ‘akibat’ kekalahannya, blok Barat pimpinan Amerika Serikat memulai memberikan gambaran “monster“ terhadap setiap entitas yang berhubungan dengan komunisme-sosialisme-Marxisme dengan label “kiri“.

Kajian secara objektif terhadap istilah “kiri“, dapat didefinisikan bahwa “kiri” merupakan sebuah pemikiran yang mencoba mengimbangi lawannya dengan memberikan pemikiran “tandingan” yang bisa menjadi alternatif jika pemikiran mainstream tidak lagi cocok untuk diterapkan (dalam sedut pandang pemikir kiri).

Gerilya sporadis pemikiran kiri sebenarnya berusaha mendekonstruksi aliran pemikiran arus utama yang seringkali didukung entitas politik yang sedang berkuasa sebagai backing untuk mempertahankan kekuasaan. Pemikiran arus utama biasanya didaulat sebagai “pemikiran penguasa” dengan memberikan dogmatisasi pemikiran yang sesuai dengan penguasa kepada yang “mereka kuasai”.

Nyatanya, penetrasi doktrin melalui jalur politik, militer maupun pendidikan tidak selalu seratus persen mampu mengubah pandangan umum yang telah tertanam kuat dalam kesadaran umum “yang dikuasai”, ada yang ikut terdoktrin dan ada yang tetap sadar dan berusaha memberikan perlawanan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline