Lihat ke Halaman Asli

Andriyanto

Jika kamu tak menemukan buku yang kamu cari di rak, maka tulislah sendiri.

Baoban Hunyin: Warisan Pernikahan Tiongkok yang Terjaga

Diperbarui: 20 Juni 2024   07:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Fewer young Chinese people willing to marry, report finds - Global Times (www.globaltimes.cn)

Baoban hunyin, sebuah praktik pernikahan tradisional di Tiongkok, merupakan salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga saat ini. Praktik ini tidak hanya relevan dalam sejarah pernikahan di Tiongkok, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks abad ke-20, baoban hunyin memainkan peran penting dalam mempertahankan struktur sosial dan memperkuat ikatan keluarga di masyarakat Tiongkok. Artikel ini akan mengulas asal-usul, praktik, dampak sosial dan budaya, serta relevansi baoban hunyin di era modern.

Sejarah dan Asal Usul Baoban Hunyin

Baoban hunyin memiliki sejarah panjang yang berakar dalam tradisi kuno Tiongkok. Praktik ini dimulai pada zaman Dinasti Han (206 SM - 220 M), di mana pernikahan dianggap sebagai kontrak sosial yang tidak hanya mengikat pasangan, tetapi juga keluarga besar mereka. Dalam konteks ini, baoban hunyin adalah kesepakatan pernikahan yang diatur oleh keluarga mempelai, sering kali melalui perjodohan yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Pada masa itu, baoban hunyin lebih dari sekadar pernikahan; ini adalah aliansi strategis antara dua keluarga yang bertujuan untuk memperkuat status sosial dan ekonomi mereka. Pernikahan ini biasanya diatur oleh orang tua atau kepala keluarga, yang melihat pernikahan sebagai cara untuk menggabungkan sumber daya dan memperkuat hubungan sosial. Baoban hunyin juga mencerminkan hierarki sosial dan nilai-nilai patriarkal yang dominan pada masa tersebut.

Praktik Baoban Hunyin: Kesepakatan dan Negosiasi

Proses baoban hunyin dimulai dengan negosiasi antara keluarga calon mempelai pria dan wanita. Langkah pertama adalah pencarian calon yang sesuai, yang melibatkan penilaian terhadap latar belakang keluarga, status sosial, dan kekayaan. Setelah calon yang cocok ditemukan, keluarga mempelai pria akan mengirimkan lamaran formal kepada keluarga mempelai wanita.

Negosiasi dalam baoban hunyin melibatkan diskusi tentang mahar (disebut sebagai "cai li") yang harus diberikan oleh keluarga mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita. Mahar ini mencakup berbagai barang berharga, seperti perhiasan, uang, dan barang-barang lain yang dianggap bernilai. Selain itu, kedua keluarga juga akan membahas berbagai aspek pernikahan lainnya, seperti tanggal pernikahan, upacara, dan tradisi yang harus diikuti.

Contoh kasus yang menarik adalah pernikahan antara dua keluarga kaya di Tiongkok pada awal abad ke-20. Negosiasi berlangsung selama beberapa bulan, di mana kedua keluarga saling bertukar hadiah dan melakukan kunjungan formal. Akhirnya, kesepakatan dicapai dan pernikahan dilangsungkan dengan upacara yang megah, dihadiri oleh ratusan tamu dari berbagai kalangan.

Dampak Sosial dan Budaya Baoban Hunyin

Baoban hunyin memiliki dampak yang signifikan terhadap struktur keluarga dan dinamika sosial di Tiongkok. Dalam masyarakat tradisional, pernikahan ini membantu menjaga stabilitas sosial dengan menggabungkan dua keluarga yang memiliki status sosial dan ekonomi yang seimbang. Praktik ini juga memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, karena pernikahan sering kali melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses negosiasi dan persiapan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline