*Fenomena Masyarakat Pembaca Judul... Langsung Komen*
Oleh: *Andre Vincent Wenas*
Hasrat ingin tampil di panggung (media) sosial dengan buru-buru komen tanpa membaca lengkap dan kritis isi pesan yang disampaikan telah memunculkan sekelompok masyarakat yang disebut 'masayarakat pembaca judul langsung komen'.
Kedangkalan interaksi sosial via media seperti ini semakin marak di forum publik, utamanya di medsos. Fenomena seperti ini segera saja dimanfaatkan oleh sementara media online yang memang hanya bertujuan mengejar rating lewat banyaknya link yang di click.
Maka bertebaranlah judul-judul berita atau tulisan yang disebut dengan istilah 'click-bait' (jebakan untuk meng-klik tautan). Dan kerap (atau hampir selalu) didapati bahwa isi berita/tulisan itu tidak ada relevansinya sama sekali dengan judulnya.
Kesalahan ada di kedua belah pihak. Pembaca judul memang malas untuk meneliti isi, dan media online penyaji berita pun hanya ingin mengejar rating. Keduanya sama-sama dangkal, sama-sama jadi pembohong publik.
Fenomena seperti ini hanya merecoki dunia maya, ruang publik jadi terpolusi oleh ulah banalitas (kedangkalan) seperti ini. Apalagi jika keduanya menganggap praktek pembohongan publik seperti itu adalah hal yang biasa dan malah perlu. Demi pencitraan dan demi rating.
Citra dan rating menjadi ideologi bagi sementara masyarakat dunia maya. Dari pihak penerima pesan maupun pengirim pesan.
Karena memang seperti telah banyak diulas dalam berbagai kajian media, dikatakan bahwa semua yang tampil lewat media (berita, iklan, video, foto, dll) sesungguhnyalah sudah di-framing (diberi kerangka) tertentu. Semua yang tampil lewat media selalu ada perspektif (sudut pandang) tertentu. Bahkan Marshal McLuhan (seorang profesor jurnalistik) sampai meyakini bahwa media itu sendiri adalah juga pesan (the medium is the message).
Beberapa kali kita mengalami sendiri, saat sharing (membagi) link artikel yang hanya menampilkan judulnya, kerap direspon oleh penerima pesan dengan tanggapan hanya atas judulnya saja. Padahal seringkali judul tulisan (apa lagi yang berbentuk pertanyaan) adalah sekedar untuk menstimulasi diskusi dimana uraian jawabannya ada dalam isi artikel tersebut.
Namun lantaran penerima pesan hanya merespon lewat pembacaan judul, maka diskusi pun macet, jadi tidak jelas juntrungannya. Bahkan bisa mengarah ke debat kusir yang konyol dan tolol. Sama sekali tidak mencerdaskan, buang-buang waktu dan energi.