Lihat ke Halaman Asli

KKN Tematik Kelompok 12 Universitas Muhammadiyah Jember Revitalisasi UMKM Tempe Rumahan di Desa Kebonan, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang

Diperbarui: 8 Agustus 2024   14:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kelompok 12 KKN Tematik Unmuh Jember

Kebonan, Klakah, Kab Lumajang pada Senin, 5 Agustus 2024,Universitas Muhammadiyah Jember akan melepaskan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kebonan, Kecamatan Klakah adalah kecamatan yang menjadi fokus wilayah KKN Tematik Gelombang 2 ini, dengan mahasiswa kelompok KKN berjumlah 20 mahasiswa. Acara yang berlangsung di halaman utama kampus ini berlangsung dengan baik dan dihadiri oleh rektorat, dosen pembimbing lapangan, dan mahasiswa KKN yang akan diterjunkan.

Acara diawali dengan sambutan oleh rektor Universitas Muhammadiyah Jember yang menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu tri dharma perguruan tinggi. Beliau berharap kepada para mahasiswa agar dapat memberikan kontribusi nyata, terhadap desa yang ditempati terutama bagi Desa Kebonan, Kecamatan Klakah, Lumajang yang sekaligus sebagai wilayah penerjunan mahasiswa KKN kelompok 12 dalam revitalisasi UMKM dan peningkatan ekonomi desa.

Survei UMKM Tempe Rumahan di Desa Kebonan, Klakah/Kelompok 12 KKN Tematik Unmuh Jember

Anggota Kelompok KKN 12 Kemal Aditya menyampaikan Kamis (8/9/2024) bahwa mereka tergerak untuk membantu UMKM di Desa Kebonan, salah satunya adalah UMKM Tempe Rumahan yang telah berdiri selama 7 bulan.

Menurut pengamatan kelompok KKN 12, pemasaran yang dilakukan oleh UMKM Tempe Rumahan masih memakai cara manual dengan dititipkan ke penjual sayur keliling.

" Tempe Rumahan memiliki cita rasa khas rumahan, sehingga banyak peminatnya namun memang seiring berjalan waktu terdapat beberapa kendala pemasaran" ujar Kemal Kamis (8/9/2024).

Kendala pemasaran berada pada di bulan Ramadhan hingga omset berkurang mencapai 50%, per bungkus dibandrol seharga 2500 - 4000 ribu rupiah.

" Hal tersebut menjadi kesulitan tersendiri , produk harus dipasarkan namun penjualan dan harga belum sesuai semestinya" ujar Kemal.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline