Lihat ke Halaman Asli

Andien Izzatul Maulida

Mahasiswa Universitas Airlangga

Menilik Kualitas Pelayanan Transportasi Publik di Indonesia

Diperbarui: 20 November 2024   20:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto Halte Bus di Jl. Dukuh Menanggal, Surabaya (Sumber: Dokumen Pribadi)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan urutan ke-4 dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Padatnya penduduk di Indonesia memengaruhi kepadatan lalu lintas dan penggunaan kendaraan bermotor. Korps Lalu Lintas POLRI menyebutkan hingga bulan September tahun 2024 ini, sebanyak 164.136.793 unit kendaraan dengan beragam jenis tersebar di Indonesia. 

Di antaranya 20.122.177 unit mobil pribadi, 285.957 unit bus, 6.197.110 unit mobil pengangkut barang, 137.350.299 unit sepeda motor, dan 162.361 unit kendaraan khusus berupa ambulans dan pemadam kebakaran.

Kepadatan kendaraan bermotor ini cukup mengkhawatirkan karena banyaknya dampak negatif yang muncul. Menurut Tugaswati (2012), emisi gas kendaraan bermotor mengandung banyak substansi pencemar, antara lain gas karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). 

Gas-gas yang berbahaya ini menyebabkan kualitas udara menjadi buruk. Sehingga jika terhirup dan masuk ke dalam tubuh secara terus-menerus, dapat merusak sistem pernapasan dan sistem peredaran darah.

Salah satu solusi yang dapat mengatasi masalah ini adalah dengan dihadirkannya transportasi publik sebagai pengganti kendaraan pribadi. Transportasi publik melayani rute dan jadwal keberangkatan yang tetap seperti contohnya bus dan kereta. Selain menjadi solusi kemacetan lalu lintas, transportasi publik juga membantu mengurangi pencemaran emisi kendaraan bermotor. 

Bagi masyarakat terutama kelas menengah, transportasi publik dapat dipilih sebagai akses mobilitas sehari-hari karena tarifnya yang cukup terjangkau. Masyarakat juga tidak perlu memikirkan masalah tempat parkir jika menggunakan transportasi publik.

Namun pada kenyataannya, pemerintah masih belum serius dalam menyediakan transportasi publik yang layak dan merata di semua wilayah. Masalah yang sering terlihat adalah aksesibilitas transportasi publik. Banyak dari masyarakat yang kesulitan menjangkau halte bus atau stasiun kereta api dari rumahnya. 

Bahkan setelah menggunakan transportasi publik pun, penumpang masih harus menggunakan jasa ojek atau taksi baik online maupun konvensional untuk sampai ke tempat tujuan karena rute yang tersedia tidak dapat menjangkau semua daerah.

Selain aksesibilitas, jam keberangkatan dan kedatangan yang tidak sesuai jadwal juga menjadi masalah. Sejauh ini, transportasi publik di Indonesia yang datang tepat waktu sesuai jadwal hanyalah kereta api. 

Sedangkan transportasi publik dengan jenis bus atau kapal feri di beberapa daerah masih sering mengalami keterlambatan. Hal ini menyebabkan masyarakat yang menggunakan bus atau kendaraan umum sejenisnya untuk berangkat sekolah atau bekerja, enggan menggunakan transportasi publik karena mereka takut tidak dapat datang tepat waktu di tempat tujuan. 

Masalah lainnya adalah kurangnya fasilitas penunjang yang dimiliki transportasi publik. Mengambil contoh di Surabaya, masih banyak halte-halte Suroboyo Bus (salah satu transportasi publik jenis bus di Surabaya) yang kurang memadai. Halte-halte tersebut tidak dilengkapi dengan tempat duduk yang nyaman, area beratap, dan papan informasi yang jelas mengenai rute dan jadwal keberangkatan bus. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline