Lihat ke Halaman Asli

Andang Masnur

Komisioner

Menjadi Penulis yang Kaya bersama Kompasiana

Diperbarui: 23 Februari 2020   17:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Bookshelf (freepik.com)

Sejak zaman kuliah saya menjadi penulis liar di dalam kampus. Membuat narasi dua atau 3 paragraf untuk di tempel di kaca jendela fakultas kala itu. Mengkritik kebijakan kampus, memantik diskusi tentang penegakan supremasi hukum, macam-macam yang ditulis. Tujuannya ingin melihat sejauh mana ide atau gagasan kita diterima orang lain.

Setelah menempel tulisan kemudian saya duduk memperhatikan diam-diam dari jauh teman-teman mahasiswa yang tertarik membaca tulisan tersebut. 

Tidak sedikit juga tulisan itu disobek oleh yang tidak dikenal. Mungkin terganggu, mungkin juga tidak sepakat. Tapi saya tetap senang karena uneg-uneg bisa tersampaikan.
 
Tiga tahun terakhir sejak bergabung sebagai penyelenggara pemilu saya acap kali menulis tentang situasi pesta demokrasi tanah air. Dari tahapan Pilkada 2018, Pemilu 2019 dan sekarang yang lagi nge-tren adalah persiapan Pilkada 2020.

Tulisan-tulisan tersebut dimuat di halaman opini beberapa media cetak lokal dan media-media online di daerah. Selain memberikan klarifikasi terhadap isu hoaks yang menyerang penyelenggara pemilu kala itu.

Saya juga memberikan narasi penguatan kepada kawan-kawan jajaran penyelenggara dalam mempersiapkan diri melaksanakan tahapan pemilu dan pilkada. Sebab selain bertugas melaksanakan tahapan secara teknis, menjadi menjadi penyelenggara juga membutuhkan kepercayaan publik.

Fix, selama tiga tahun terakhir tersebut jalur tulisan saya konstisten tentang seputar demokrasi tanah air, baik menyangkut isu skala lokal maupun nasional. 

Tantangannya adalah begitu banyak kejadian yang menyita perhatian dan ingin diangkat menjadi narasi dalam artikel. Tetapi mesti berhati-hati, status sebagai penyelenggara menjadikan saya harus normatif dalam menulis yang berkaitan dengan politik.

Bukan juga bosan sebenarnya bahkan saya tetap menikmati, hanya saja membatasi diri dalam berkarya seperti itu membuat pemikiran kita seperti tidak bebas mengeluarkan ide.

Awal bulan ini saya bergabung sebagai kompasianer. Melihat tayangan artikel dari para senior saya menyimpulkan bahwa, kita tidak bisa bertahan pada satu tema untuk menjadi penulis yang "kaya".

Beranda akun para senior di kompasiana memuat puluhan bahkan ratusan artikel dengan tema yang berbeda. Inilah yang saya maksud kaya, sebab ulasan atau artikel yang disajikan tidak melulu pada satu tema. 

Kita bisa menyajikan tulisan dengan tema hiburan, pendidikan, hukum, atau puisi. Tentu ini akan memperkaya referensi dan informasi bagi orang lain atau pembaca.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline