Lihat ke Halaman Asli

Merangsang Imajinasi Anak Dengan Menulis

Diperbarui: 24 Juni 2015   20:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ehow.com

[caption id="" align="aligncenter" width="400" caption="ehow.com"][/caption]

Banyak orang tua menganggap daya imajinasi pada anak-anak kurang penting untuk dikembangkan. Anak-anak yang suka berimajinasi dianggap suka berkhayal.  Padahal daya imajinasi memiliki peran penting untuk bisa menjadi orang yang kreatif  dalam merencanakan sesuatu dan dapat berkomunikasi dengan baik. Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengasah imajinasi pada anak-anak antara lain dengan dongeng, membaca dan menulis.

Dengan dongeng anak-anak hanya mendengarkan lalu berimajinasi dalam pikirannya. Demikian pula membaca, imajinasi hanya bermain dalam pikiran. Umumnya yang kita tahu anak-anak menuangkan imajinasi dengan gambar, tapi tidak ada salahnya kita melatih mereka dengan menulis. Anak-anak akan lebih  bebas menuangkan imajinasinya dalam bentuk tulisan.

Mungkinkah anak-anak bisa membuat sebuah tulisan? Kita saja yang orang dewasa mengalami kesulitan untuk membuat sebuah karangan atau tulisan apalagi anak-anak. Saya beberapa kali membaca karya anak-anak Indonesia terbitan Mizan (Kecil-Kecil Punya Karya), yang tulisannya sangat luar biasa. Saya pikir anak-anak-Indonesia punya kemampuan luar biasa dalam menulis ini. Menulis bukan hanya berasal dari bakat tapi juga kebiasaan. Bagaimana caranya? Cara yang paling gampang adalah dengan membiasakan anak-anak membaca.

***

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Jika sering membaca maka otomatis sangat mudah untuk menulis dan semakin sering membaca, tulisan yang dihasilkan akan semakin bagus apalagi jika dibiasakan sejak dini. Namun membiasakan anak-anak merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan bukanlah hal mudah.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, sekolah-sekolah di Indonesia kurang dalam hal membiasakan anak membaca. Yang ada siswa hanya dibiasakan menghafal. Membaca itu tahu, mengerti dan otomatis hafal sedangkan menghafal hanya tahu saja tapi belum tentu mengerti jadi gampang hilangnya dari memori otak kita. Kalau yang terakhir itu adalah pengalaman pribadi hehehe...

Sekolah anak saya (8 th)  kebetulan adalah sebuah sekolah Internasional berkurikulum Inggris di Kairo. Di sekolah ini, membaca merupakan tugas harian anak sehingga mau tidak mau anak "dipaksa" untuk membaca, sehari satu buku. Bukan buku tebal yang ditugaskan untuk dibaca, tapi hanya buku cerita bergambar atau buku pengetahuan setebal tidak lebih dari 20 lembar saja. "Pemaksaan"  ini rupanya sudah membuatnya menjadi terbiasa dan ketagihan.

Selain melatih spelling dengan benar, kebiasaan ini otomatis menambah kosa katanya. Penambahan kosa kata akan mempermudah dia untuk membuat sebuah tulisan. Grammar atau tata bahasa itu soal nanti, tapi bagaimana anak-anak bisa merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi.

***

Awalnya saya kaget ketika dalam sebuah PC (Parent Consultation) guru menunjukkan pada saya sebuah tulisan 5 paragraf yang berisi cerita sederhana hasil karya Faiz anak saya. Menakjubkan, kata gurunya karena Faiz bisa menulis sebuah cerita lengkap dengan ekspresi tokohnya. Misalnya dengan kata-kata "wow!! (ekspresi takjub) lalu "Ouuchhh" (ekspresi kaget) dan lain sebagainya. Ada beberapa kesalahan dalam tulisan itu yaitu penulisan pada kalimat lampau tapi guru hanya menggaris bawahi kosa kata yang salah dan menuliskan yang benar di atasnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline