Tumbal [31] Jalan Panjang Kebenaran (7)
Waktu
Kadang membuktikan
Sebuah kebenaran bisa terkuak dari kelamnya kesalahan kita
Bukankah Mentari tersenyum kembali bila hujan sudah hilang
Itulah waktu yang bicaraAku masih sangsi kapan virus korona ini akan berakhir seprti sangsinya hati kami tentang jalan kebenaran yang kami cari selama ini, kunci-kunci telah kami temukan walau karat-karatnya belum bisa untuk membuka gembok-gembok gudang masa lalu yang masih di simpan rapat dan di jaga demikian ketat dengan alasan yang tidak masuk akal dan cenerung posesif.
"karat-karat yang sudah menahun dan tidak bisa serta merta di buka pakah kita harus menjebolnya dengan sedikt kekerasan hati kita ?" tanya kakak padaku
'Ganti gembok dengan cara membeli pengungkit baru atau gerinda itu pinu bajanya dengan las bisa kebuka " jawabku enteng
"ini tentang hati-hati mereka yang tidak mau tahu dan selalu menutup pintu bila kebenaran itu mau di ungkapkan" jawabnya padaku lagi
"karena sebuah kebenaran harusnya bisa dibuka walau pahit adanya" jawabku inilah yang membuat kakak diam dan hari-hari di awal bulan Nopember ini seakan menjadi pertanda waktu bahwa partai lama yang berkuasa hari ini nampaknya akan sama dengan partai-partai baru yang oportunis dan tidak mau kalah walau hanya sekedr adu argumen di ruang-ruang gedung wakil rakyat yang semakin tinggi pintu dan pagarnya hingga rakyat harus merobohkannya bila ingin bertemu dengan wakil yang di pilihnya di gedung rakyat tersebut.
"harusnya gedung-gedung wakil rakyat itu tidak tinggi-tinggi pintu pagarnya karena rakyat realita harus merobohkannya hanya sekedar untuk memberikanaspirasinya pada wakil-wakil rakayat yang ada didalam gedung" jawab kakak lagi