Lihat ke Halaman Asli

Marosim, Tradisi Penjaga Disiplin Waktu PM Gontor

Diperbarui: 24 Mei 2018   20:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

wartakota.tribunnews.com

Prinsip Al-Ma'hadu Laa Yanaamu Abdan yang berarti Pondok tidak pernah tidur membuat kegiatan di Pondok Modern Gontor tidak pernah berhenti, selalu bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya secara dinamis.

Kegiatan padat dan melibatkan ribuan anak remaja di dalamnya menjadi tantangan tersendiri, mengingat bukan perkara mudah mengatur anak remaja setingkat SMP dan SMA.

Menyiasati hal tersebut PM Gontor mempunyai suatu tradisi unik dan menarik yang dapat menggerakkan para santri dari satu kegiatan ke kegiatan lain secara efisien. Tradisi tersebut akrab disapa Tabkir atau Marosim.

Secara bahasa Tabkir merupakan kata dasar dari kata kerja bahasa Arab yaitu Baakaro yang berarti pagi-pagi atau lebih dini,sehingga dapat disimpulkan Tabkir berarti menyegerakan kegiatan lebih dini. Adapun Marosim juga berasal dari bahasa Arab yang berarti Upacara.

Mengapa dinamakan demikian? Disinilah letak keunikan tradisi ini. Kakak-kakak senior pengurus asrama atau yang biasa dipanggil Mudabbir tinggal berdiri tegak seperti sedang melaksanakan upacara bendera hari senin pagi, maka seluruh santri akan mempercepat langkah mereka bahkan berlari sekencang mungkin karena takut terlambat. 

Tradisi unik ini tetap dipertahankan hingga kini karena terbukti dapat menjaga kualitas efisiensi waktu di PM Gontor. Tak hanya sekedar berdiri seperti patung, para Mudabbir juga mengistruksikan secara tegas agar seluruh santri bergegas sembari bertepuk tangan, bahkan tak jarang mereka "mengaum" sehingga tidak ada yang berani meremehkan instruksi mereka.

Petugas Marosim / Foto : https://www.facebook.com/gontoreveryday/

Dari tradisi Marosim atau Tabkir ini santri juga belajar bertanggung jawab dan berani menerima resiko. Apabila santri terlambat, apapun alasannya mereka harus siap menerima sangsi dari petugas Tabkir tersebut, walaupun dengan alibi dipanggil wali kelas atau baru rapat dengan guru sekalipun, petugas Marosim tak segan memberi hukuman sebijaksana mungkin berdasarkan tingkat kepentingan kegiatan. 

Apabila terlambat masuk kelas maka santri akan dimasukkan namanya dalam daftar pelanggaran, namun lain halnya jika santri terlambat Shalat berjamaah, boleh jadi rambut akan segera menghilang.

Santri yang terlambat harus siap menerima sangsi / Foto : http://ulilsdailynote.blogspot.co.id/2015/01/damainya-gontor-tanpa-marosim.html

PM Gontor yang menerapkan 2 bahasa resmi dalam pergaulan sehari hari santri, yaitu bahasa Inggris dan Arab saja secara bergantian, mengharuskan seluruh Mudabbir yang bertugas Marosim juga menyesuaikan instruksi mereka dengan bahasa yang sedang diterapkan. 

Tapi Marosim ini tidak semengerikan yang anda bayangkan, sebagian memang bersikap seperti komandan pasukan militer, namun tak jarang juga yang bersikap lebih bersahabat guna mencairkan suasana dan juga agar santri tidak terlalu merasa ditekan dan dikejar kejar oleh waktu.

Efektifitas waktu memang sangat penting, tak hanya di pondok saja tetapi di seluruh lini kehidupan, maka PM Gontor telah ditata sedemikian rupa agar santri benar-benar menghargai waktu, agar mereka tidak diperbudak oleh waktu melainkan mereka sendiri yang mengatur waktu.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline