Lihat ke Halaman Asli

Ali Benarbia

Mahasiswa

Peran Pendidikan Budi Pekerti di Era Globalisasi 4.0

Diperbarui: 7 Januari 2023   06:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Saat kita mendengar dan membaca implementasi serta arti dari kata "budi pekerti" pasti terbesit dalam pikiran kita merupakan penerapan nilai-nilai dalam membentuk karakter manusia yang berbudi luhur yang dapat mengantarkan bangsa indonesia menjadi orang yang beradab. Di era globalisasi saat ini pendidikan budi pekerti menjadi nilai yang sangat penting di terapkan dan juga sangat dibutuhkan untuk menata prilaku warga negara Indonesia agar indonesia dapat menuju peradaban bangsa yang maju.

Tujuan artikel ini adalah menjelaskan bahwa urgensi pendidikan budi pekerti di era globalisasi sangatlah di butuhkan dengan tujuan sebagai sarana filtrasi budaya yang tidak baik yang masuk ke indonesia melalui internet. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi perlu diperkuat oleh pendidikan nilai sebagai filternya sehingga siswa mampu kritis dalam penalaran dan pertimbangan moral dan mampu memilih nilai yang baik dan benar berdasarkan pada landasan, Agama, etika, moral dan norma yang berlaku di Indonesia.

Di era global saat ini posisi pendidikan budi pekerti merupakan nilai -- nilai positif yang wajib ditanamkan sejak dini dan juga pendidikan budi pekerti menjadi sebuah hal yang sangat sentral karena posisinya yang sangat dibutuhkan agar mampu memberikan makna setiap orang untuk menjadikan bangsa Indonesia menuju peradaban Bangsa yang maju dan beradab.tujuan artikel ini di buat adalah untuk mengetahui apa saja nilai -- nilai positif di dalam pendidikan budi pekerti yang harus di terapkan sejak dini.

Secara etimologi budi pekerti terdiri dari dua bagian kata, yakni budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sangsekerta berarti kesadaran, budi, pengertian, benak dan kecerdasan. Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pengamalan atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang diperlihatkan oleh seseorang dalam berprilaku.

Budi pekerti secara operasional adalah suatu prilaku positif yang dilaksanakan melalui kebiasaan. Artinya seseorang diajarkan sesuatu yang baik mulai dari masa kecil hingga dewasa melewati latihan- latihan, misalnya teknik berpakaian, teknik berbicara, teknik menyapa dan memuliakan orang lain, teknik bersikap menghadapi tamu, teknik makan dan minum, teknik masuk dan terbit rumah dan sebagainya.

Pendidikan budi pekerti merupakan upaya untuk membantu peserta didik mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai-nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan dan di tanam sejak dini, baik secara perorangan maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat. Pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pendidikan budi pekerti sering juga didefinisikan dengan tata krama yang berisikan kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia. Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, norma, aturan. Krama sopan santun, kelakukan, tindakan perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti adat sopan santun menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Pentingnya pendidikan budi pekerti bagi masyarakat Indonesia haruslah ditanamkan sejak dini pada seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan budi pekerti yang baik memiliki beberapa syarat dan indikator penting yang harus dicapai demi terwujudnya masyarakat dengan karakter yang baik. Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia telah merumuskan 9 nilai- nilai yang ditanamkan dalam diri warga Indonesia, khususnya siswa, dalam upaya membangun dan menguatkan karakter bangsa. 9 adapun nilai-nilai dalam pendidikan budi pekerti, diantaranya yaitu:

1. Religius.
Sifat religius sangat penting untuk diterapkan sejak dini karena dengan memiliki sikap yang religius kita dapat memiiki imn yang kuat, dengan begitu kita tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang buruk dan dapat memfilter budaya luar yang tidak baik, dan juga dapat dilakukan dengan menjadi individu yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Contoh sehari hari yang dapat diterapkan adalah dengan melaksanakan sholat dhuha dan membaca alquran sebelum memulai pelajaran atau ibadah lain sesuai agama yang dianut peserta didik, mengamalkan isi alquran.

2. Jujur
Dengan menjadi pribadi yang jujur, akan membuat diri kita sebagai seseorang yang selalu dapat dipercaya dalam hal apapun. Perilaku jujur dalam kehidupan sehari hari dapat diterapkan dimana saja. Seperti tidak menyontek tugas atau dalam ujian, serta selalu terbuka kepada kedua orang tua, mengakui kesalahan jika bersalah, tidak menyebar berita yang tidak benar.

3. Toleransi
Kita hidup di negara "Bhineka Tunggal Ika", sehingga sangatlah penting bagi kita untuk menanamkan sikap toleransi sejak dini. Contoh dalam perilaku sehari-hari adalah Tidak melakukan diskriminasi terutama pada agama minoritas, tidak mengganggu proses ibadah orang lain, tidak menjadikan agama orang lain sebagai bahan gurauan, berteman dengan semua orang, tanpa memandang apa latar belakang agama mereka. Tetap menjaga silaturahmi dengan tetangga, teman, maupun rekan kerja yang berbeda agama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline