Masa depan anak itu ada ditangan orang tua. Bagaimana mereka nanti di masa depan tergantung bagaimana orang tua mereka merawat anak saat mereka kecil. Masa dimana semua pondasi kehidupan dibentuk.
Memang benar bahwa masa kecil bukanlah penentu masa depan seorang anak. Tapi masa kecil lah yang akan mempengaruhi bagaimana anak itu tadi akan berkembang. Pandangan mereka, pendapat mereka, peran mereka nanti di masa depan akan menentukan bagaimana negara kita nanti.
Merawat anak merupakan hal yang akan menjadi tanggung jawab untuk setiap orang tua. Entah anak itu dinginkan atau tidak, ataupun orang tuanya masih muda, apapun alasannya tidak akan menggugurkan kewajiban orang tua dan hak yang dimiliki anak untuk dirawat oleh orang tua.
Begitu juga dengan anak yang memiliki kekurangan. Mereka memiliki hak yang sama dengan anak yang tidak berkekurangan untuk dirawat dengan baik oleh orang tua. Terlebih lagi, anak-anak tadi menjadi 'memiliki kekurangan' karena ketidaktahuan orang tua. Mereka yang seharusnya punya kehidupan normal tanpa ada 'stigma anak bodoh' yang mengikuti mereka, hanya karena ketidaktahuan orang tua.
Seperti penderita disleksia, disigrafia, diskalkulia. Penderitanya sering dicap sebagai anak bodoh, karena mereka tidak bisa melakukan apa yang normalnya bisa dilakukan oleh anak lain. Padahal mereka bisa melakukan hal-hal tersebut, dengan melalui pembelajaran khusus untuk mengatasi ke-disabilitas-an mereka.
Penderita yang dibuang atau diabaikan oleh orang tuanya akan merasa diri mereka benar-benar bodoh karena omongan-omongan yang sering dia dengar dari orang disekitar mereka. Hancurlah masa depan anak yang seharusnya terang, tapi karena ketidaktahuan orang tua mereka, selama hidup mereka, mereka akan dipandang dengan tatapan prihatin dan mereka juga akan punya stigma anak bodoh yang selalu mengikuti mereka.
Oleh karena itu, apabila anak memiliki ketidakmampuan akan sesuatu jangan langsung menyimpulkan bahwa anak itu bodoh. Tetap dukung mereka perlahan-lahan. Jika masih tidak bisa, maka anda bisa bertanya kepada para ahlinya tentang keadaan anak.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H