Lihat ke Halaman Asli

Alfian Syarif Hidayatullah

Dibuat hanya untuk memenuhi tugas kuliah jurnalistik

Memuncaki Gunung Lawu, Terkenal Mistis Namun Fantastis

Diperbarui: 27 Juni 2021   11:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puncak Gunung Lawu dari udara (dokpri)

Gunung adalah salah satu sarana menenagkan diri. Jauh dari hiruk pikuk kota yang ramai dan panas, gunung menawarkan kesunyian yang damai dan dingin, serta dibalut keindahan yang akan membuat para pendaki selalu rindu untuk mendaki lagi dan lagi. 

Ibarat candu yang menuntut untuk dipenuhi, gunung selalu memanggil hati nurani untuk kembali berpetualang menyambangi hutan dan bebatuan. 

Keinginan ini memuncak ketika berbulan-bulan terjebak di dalam rumah ketika pandemi Covid-19 melanda. Rutinitas sehari-hari ditambah tugas kuliah yang banyak membuat rasa suntuk memuncak. Pasca lebaran 2021 terdengar kabar beberapa gunung mulai dibuka untuk umum. 

Tercetuslah ide dadakan untuk mendaki gunung. Dengan segera saya hubungi teman sekelas saya Fikri untuk melakukan pendakian, tidak disangka gayung pun bersambut! Ajakan saya tepat ketika Fiqri ditawari teman kampugnya yang mencari kawan untuk mendaki. Masuklah saya kedalam tim yang beranggotakan lima orang.

Gunung yang akan kami daki adalah Gunung Lawu. Gunung ini sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia terutama para pendaki. Gunung ini terletak di antara tiga kabupaten dan dua provinsi, tepatnya Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah serta Kabupaten Ngawi dan Kabupaten  Magetan, Jawa Timur. 

Gunung ini memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut. Gunung ini juga terkenal dengan sejuta kisah legenda, misteri dan ceita horornya yang terkenal di kalangan pendaki, masyarakat, maupun pengunjung asing. 

Dengan semua kekayaan budaya yang melekat pada gunung ini, banyak orang yang berkunjung untuk berziarah, mendaki dan berjualan, hal ini menambah keunikan Gunung Lawu dengan banyaknya pedagang yang berjualan sepajang jalur pendakian hingga area puncak dengan warung yang sangat terkenal yaitu Warung Mbok Yem. 

Warung Mbok Yem merupakan warung tertinggi di Pulau Jawa, terletak di ketinggian 3150 Mdpl dengan menu utama pecel Mbok Yem yang sangat terkenal.

Maka pada tanggal 18 Mei 2021 kami pun berangkat. Saya terlebih dahulu menuju Bantul untuk menemui rombongan, setelah itu kami berangkat menggunakan mobil. Perjalanan dari Bantul ke Basecamp Cemoro Sewu di Magetan, Jawa Timur memakan waktu sekitar 3 setengah jam di perjalanan. 

Pukul 11.00 WIB kami tiba di basecamp, udara dingin dan abut yang bergelantungan menyambut kami. Kami beristirahat sambil menulis surat registrasi yang diberikan pengelola basecamp. Setelah beres pukul 11.10 kami pun bergerak naik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline