Lihat ke Halaman Asli

Roeslan Hasyim

Cerpen Mingguan

Berteman

Diperbarui: 7 Maret 2021   08:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

www.popbela.com

"Ayo Nak, hari ini waktunya kita berderma dengan beberapa karung beras pada orang-orang miskin di rumah nenekmu. Karena sudah cukup lama kita tak mendermakan sebagian kekayaan kita disana." begitu kata ayah diakhir pekan ini.

Aku terlahir dari seorang ayah yang kaya raya, pejabat negara yang memiliki rumah mewah, bahkan terbesar dan termegah di daerah kami tinggal. Kendaraan mewah seperti Ferrari, Mercy, Lamborghini dan beberapa kendaraan kelas dunia ada di kandang sebelah rumah. Bahkan bukan hanya kuda besi yang kami pelihara, tapi kuda-kuda seperti Fusaichi Pegasus yang harganya mencapai Rp 934 miliar, Shareef Dancer, Totilas menjadi mainan kami sehari hari.

Jadi, jika hanya memberi beberapa karung beras kepada orang lain tentu hal yang sangat sepele bagi kami. Karena kami memang sering berbagi kepada banyak orang di berbagai tempat secara bergantian, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim piatu, sebagai bentuk ketaatan kami kepada Tuhan Sang Pencipta.

Seperti apa yang disampaikan oleh kaum intelektual keyanikan, mendermakan sebagian dari harta kami, adalah bentuk ibadah, sebagai wujud syukur dan membersihkan harta yang kami miliki. Bahkan bukan hanya menyucikan harta kami, tapi juga menyucikan jiwa pemiliknya sehingga orang yang selalu berderma akan dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa, bahkan dari hal-hal sepele yang sering terjadi pada banyak manusia, seperti digigit nyamuk, dihinggapi lalat, atau rumah didatangi kecoa. 

Apalagi untuk hal-hal yang besar dan buruk, seperti kecelakaan, atau hal buruk lainnya, tak berani menyentuh keluargaku. Jangankan menyentuh, mendekati saja, hal-hal buruk tak pernah berani. Terbukti sejak aku dilahirkan, tak pernah ada masalah apapun yang terjadi padaku dan keluargaku. Semuanya selalu berjalan lancar, meskipun sebenarnya juga sedikit membosankan.

Namun hari ini, ketika aku bersama ayah pergi ke rumah nenek untuk berbagi beberapa karung beras yang terangkut beberapa truk besar, aku dihinggapi rasa cemas. Aku melihat banyak kecoa berkeliaran di rumah-rumah kumuh di sekitar rumah nenek. Bahkan di rumah nenek sendiri yang dijaga kebersihannya oleh para pembantu yang diperkerjakan secara professional dengan perlengkapan yang paling mutakhir, tetap saja terlihat beberapa kecoa berkeliaran seperti mereka sedang asyik menikmati liburan dan kenyamanan.

Kecemasan yang aku rasakan ini bukan karena takut pada kecoa, tapi lebih pada keyakinan yang tertanam pada diriku selama ini bahwa seorang dermawan akan dijauhi hal buruk, bahkan hal sepele yang kami sendiri tidak suka, seperti digigit nyamuk atau didatangi kecoa untuk bertamu.

" Tuhan, ada apa sebenarnya ini? Mengapa ada banyak kecoa di rumah nenek."

" Nak, tenanglah. Wajar saja kalau ada kecoa di rumah nenek. Coba kamu lihat di sekitar sini. Ada begitu banyak rumah kumuh yang menjadi sebab musabab banyaknya kecoa. Dan itu hal biasa disini." kata ayah menenangkanku, sepertinya ayah sudah tahu apa yang aku khawatirkan yang begitu tampak diraut wajahku.

" Baiklah yah." Kami kemudian melanjutkan bakti darma kami, menyebarluaskan sebagian harta yang kami miliki pada fakir miskin dan anak yatim piatu.

Plak, berkali-kali aku mendengar suara seperti seseorang sedang menepuk nyamuk yang tanpa permisi berusaha mencuri darah manusia, tapi sesering itu aku juga melewatkan pandangan mataku untuk mengetahui tangan siapa yang melakukan itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline