Lihat ke Halaman Asli

Taufik Alamsyah

Buruh Kognitif

Generasi Millenial dan Kedaruratan Rumah

Diperbarui: 1 Januari 2024   16:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok. pribadi

Tempat tinggal atau rumah memiliki arti yang sangat fundamental bagi setiap insan manusia. Rumah bukan hanya tempat berlindung dari hujan, panasnya sinar terik matari, ancaman dan serangan fisik atau mental dari manusia lain atau hewan buas, akan tetapi, rumah dapat dirasakan secara intuisi-imajinatif sebagai ruang untuk merajut harapan, mimpi, cita-cita, dan keinginan untuk terus bertahan dan berkembang dalam kehidupan bersama keluarga tercinta dan terkasih.

Setiap manusia pasti membutuhkan hunian rumah. Saya kebetulan sudah berkeluarga, dan ada suatu keinginan besar mempunyai rumah sendiri. Beberapa bulan terakhir telah melakukan survey untuk pengetahuan diri sendiri guna memilah rumah mana yang akan saya beli. Saya mencari informasi mengenai rumah mulai dari harga, lokasi, hingga akses. 

Sebagai seorang generasi millenial dan berdomisili di Jakarta Selatan, tentu sudah menjadi pengetahuan umum, bahwasanya, kisaran harga rumah di Jakarta Selatan dan tentunya Jakarta di atas 700 juta rupiah. Tentu, dengan struktur dan infrastruktur yang sudah ada sebelumnya, atau tidak baru. Bayangkan saja, rumah lama saja kisaran demikian, apalagi rumah dengan struktur dan infrastruktur baru?

Kegelisahan saya sejurus dengan pernyataan dari mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, yang meramalkan bahwa, "Generasi milenial akan semakin kesulitan membeli rumah". Bukan tanpa sebab, tingkat pertumbuhan gaji atau pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan harga tanah dan rumah. Ketidakmampuan generasi millennial memiliki rumah didorong oleh tidak terkontrolnya harga rumah tersebut. 

Dalam hitungan bulan, harga rumah ukuran kecil (36/72 m2 dan 30/60 m2) di pinggiran seperti Depok dan Tanggerang saja, bisa melonjak hingga 30 persen. Lonjakan harga rumah ini tidak sebanding dengan gaji pekerja yang naik hanya sebesar 10 persen dalam beberapa tahun terakhir! 

Meski ada juga rumah yang diprogramkan oleh pemerintah, yakni rumah subsidi KPR. Namun, secara geografis, terlampau sangat jauh dari ruang kerja masyarakat, yaitu daerah pinggiran yang sangat sulit akses transportasi dan juga berat di ongkos.

Lantas, pertanyaannya adalah, "Mengapa harga rumah sangat mahal?" Edy Burmansyah, dalam tulisannya di Indoprogress bertajuk "Rumah Untuk Generasi Millennial" menulis, tidak terkontrolnya laju kenaikan harga rumah dapat dilihat dari dua sisi; penawaran (supply), dan permintaan (demand). Sisi penawaran, tidak terlepas dari struktur biaya produksi yang terbagi atas komponen biaya struktur dan infrastruktur, serta komponen biaya nonstruktur. 

Secara keseluruhan, biaya produksi mencapai sekitar 70-80 persen dari harga jual. Komponen biaya struktur dan infrastruktur meliputi atas Harga Pokok Penjualan (HPP) terdiri atas biaya building (harga tanah dan bahan bangunan, biaya pekerja) dan fasilitas pendukung lainnya.

Sedangkan biaya infrastruktur terbagi atas biaya pembangunan fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos). Sementara komponen biaya nonstruktur terdiri atas Pajak Penghasilan (PPh) yang besarnya 5 persen, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen, dan biaya promosi, yang nilainya bervariasi dari 5 sampai 10 persen dari harga jual. 

Salah satu komponen yang mendongkrak tingginya struktur biaya produksi rumah adalah ketersediaan lahan mentah. Rata-rata kenaikan harga tanah mencapai 20-50 persen per tahun, bahkan saat terjadi booming property pada tahun 2012, harga tanah melambung hingga 200 persen. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline