Bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat di buru oleh banyak orang, karena di dalamnya tersimpan banyak keberkahan hal ini sangat terlihat ketika masuk bulan Ramadhan banyak sekali orang berjualan di badan jalan setiap titik keramaian. Terlebih ketika memasuki waktu menjelang berbuka puasa, dapat di pastikan daerah itu rawan macet karena antrian para pembeli.
Meskipun, di masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan para penjual untu terus memutarkan roda perekonomian. Namun, yang menjadi pembeda adalah pada skala pembeli yang terkadang sedikit surut. Karena pandemi Covid-19, dapat di rasakan efeknya hampir pada seluruh sektor salah satunya ekonomi.
Maka, posisi kita harus benar-benar dapat melalukan manajemen keuangan sebaik mungkin agar saku di kantong tidak sampai kering. Dari sini, mungkin penulis mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi pengaturan keuangan. Penulis lebih memberikan pandangan empiris dan agamis dalam hal manajemen keuangan.
Pertama, belanjakan uang untuk kebutuhan bukan untuk keinginan, apa lagi hanya untuk gengsi semata. Posisi ini yang harus kita hindari. Karena banyak pengeluaran tidak terkontrol karena mendahulukan keinginan bukan kebutuhan. Seperti contoh: ketika tetangga terlihat beli kendaraan baru, kita merasa tersaingi sehingga kita ikut membeli yang sepadan atau lebih. Padahal bukan kebutuhan kita.
Kedua, tetap sisihkan uang untuk beramal. Karena sejatinya orang yang memberi adalah menerima. Sebagaimana yang sering kita ketahui, ketika orang semakin bijak dan suka membantu, ternyata itu justru semakin membuat mereka kaya. So...maribsaling membantu terutama di masa yang semua orang serba membutuhkan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H