Lihat ke Halaman Asli

Persada Kasih Aksara Binar

Social Educational Community

Tren Beragama di Media Sosial: Dominasi Narasi Konservatif di Dunia Maya

Diperbarui: 18 Januari 2025   13:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto Social Media (Sumber: Pinterest/TOT Bussines)

Media Sosial sebagai Sarana Penyebaran Konten Keagamaan 

          Media sosial kini menjadi salah satu platform utama untuk menyebarkan berbagai informasi, termasuk konten keagamaan. Dengan jumlah pengguna yang terus bertambah, media sosial telah mengubah cara umat beragama berbagi nilai, pandangan, dan ajaran. Namun, di tengah beragamnya konten yang beredar, narasi konservatif tampak lebih dominan dibandingkan dengan pendekatan moderat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana keseimbangan pandangan dapat dijaga di dunia maya.

Faktor Pendukung Dominasi Narasi Konservatif  

        Dominasi narasi konservatif di media sosial didukung oleh berbagai faktor, salah satunya adalah algoritma platform yang cenderung memperkuat konten dengan engagement tinggi. Konten konservatif sering kali memicu emosi kuat, seperti rasa takut atau kemarahan, yang mendorong interaksi lebih besar dari pengguna. Hal ini membuat algoritma mengutamakan penyebaran konten tersebut, sehingga pandangan konservatif lebih terlihat dan berpengaruh dibandingkan dengan narasi lainnya.

Peran Komunitas dalam Penguatan Narasi Konservatif 

        Selain algoritma, komunitas yang solid juga menjadi pendukung kuat bagi dominasi narasi konservatif. Kelompok-kelompok tertentu menggunakan media sosial untuk memperkuat identitas mereka dan mengorganisasi kampanye penyebaran pesan keagamaan. Dengan struktur yang terorganisir, mereka dapat secara efektif menjangkau audiens luas dan memengaruhi opini publik. Dalam proses ini, konten moderat atau progresif sering kali tersisih atau kurang mendapatkan perhatian. 

Dampak Dominasi Narasi Konservatif 

       Namun, dominasi ini bukan tanpa dampak. Narasi konservatif yang terlalu kuat dapat memunculkan polarisasi di kalangan umat beragama, bahkan konflik di ruang digital. Perdebatan yang tak sehat di media sosial kerap terjadi karena perbedaan pandangan yang tidak diimbangi dengan toleransi. Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana berbagi ilmu dan diskusi justru menjadi medan perang ideologi yang memperkeruh kerukunan. 

Upaya Mendorong Moderasi di Media Sosial 

       Untuk menghadapi situasi ini, dibutuhkan upaya kolektif dari berbagai pihak. Pemerintah, tokoh agama, dan pengguna media sosial perlu bekerja sama untuk mendorong konten moderat yang menyejukkan. Edukasi tentang literasi digital juga menjadi kunci untuk membantu pengguna memilah informasi dan menghindari jebakan narasi ekstrem. Dengan cara ini, media sosial dapat kembali menjadi ruang yang inklusif bagi semua pandangan keagamaan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline