Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerja rumah tangga (PRT) terkadang secara fakta memang sungguh jauh dari kata sejahtera.
Bilamana masa tunggu pengesahan RUU PPRT ini sudah memakan waktu yang sangat lama yakni 19 tahun, maka itu artinya nasib PRT memang sengaja dibuat terkatung-katung.
Kejelasan nasib PRT bukanlah sebuah prioritas padahal anggaran (uang rakyat) sudah banyak habis digelontorkan hanya untuk proses studi banding, masa uji coba dan sebagainya, namun tetap saja Rancangan Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) masih menunggu waktu yang tidak tentu kapan akan ketok palu.
Kenapa sih harus tarik ulur kayak gini terus? Apakah memang tidak ada kasih sayang untuk "profesi" seorang PRT?
Para PRT juga manusia, bahkan didominasi oleh kaum perempuan yang tangguh yakni seorang ibu. Dalam hal ini, cobalah untuk sedikit mempertimbang sisi "kemanusiaan" yang ada pada diri kita semuanya.
Sebagai upaya menyadarkan kita betapa kita semua harus memperlakukan para PRT secara humanis, marilah kita perhatikan beberapa alasan logis berikut ini.
Bila aku dan keluargaku menjadi PRT ...
Berikut ini adalah hal-hal yang kerap dialami oleh PRT sehingga menjadikan pekerjaan ini sebagai sebuah profesi yang terkadang di luar nalar.
Beban kerja PRT yang berat
Menjadi seorang PRT tidaklah segampang yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana.
Bahwa pekerjaan seorang PRT akan berhadapan dengan beban kerja yang berat. Memilih menjadi seorang PRT maka ia pasti sudah siap menjalankan beban kerja yang seberat apapun itu.
Mengurus pekerjaan rumah tangga itu bukan gampang. Kalau gampang, ya mana mungkin orang-orang masih membutuhkan keberadaan PRT.