Lihat ke Halaman Asli

SUARDI

Kajian Sosial dan Budaya

Kekecewaan Petani terhadap Reformasi

Diperbarui: 1 April 2022   14:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi petani (sumber kompas.com)

Dua puluh tiga tahun reformasi berjalan hingga sekarang, namun apa yang telah kita capai? Publik menggambarkan kekecewaan terhadap reformasi yang tidak membawa perubahan mendasar bagi masyarakat terutama petani.

Di daerah saya banyak yang merasakan bahwa kondisi ekonomi terutama masyarakat petani tidak merasakan dampak dari reformasi. Petani mengeluhkan harga dari hasil taninya yang murah bahkan nyaris tidak laku dipasaran.

Belum lagi soal pupuk yang hingga saat ini masih sering terjadi kelangkaan dan harganya yang sangat mahal. Masyarakat mengeluh yang seharusnya sawah yang digarapnya minimal bisa panen setahun sekali tapi harus mengalami kegagalan karena kekurangan pupuk.

Selain itu soal harga jual hasil perkebunan petani yang menjadi sumber pendapatannya seperti getah karet, pisang dan kelapa juga semakin mencekik. Bayangkan harga getah karet sekilo hanya berkisar 7 ribu rupiah, bahkan sempat 3 ribu rupiah per kilonya.

Sementara itu hasil tani yang lain seperti pisang dan kelapa juga tidak ada bedanya. Harga kelapa bahkan tidak laku, pisang pun sama, padahal salah satu sumber penghasilan utama masyarakat itu adalah hasil pertanian dan perkebunan. Ini tugas siapa?

Hingga saat ini petani tidak merasakan kebijakan yang mendukung pada masyarakat bawah. Pemerintah bukannya melindungi petani tapi malah mengorbankan petani. Reformasi yang dulu digembor-gemborkan nyaris tidak ada pengaruhnya bagi masyarakat bawah.

Indonesia yang sering dikatakan sebagai negara agraris dan maritim mungkin kini telah musnah. Saya bertanya indonesia ini negara apa, jika kita menyebutnya agraris tapi masih relevankah? Atau mungkin sudah menjadi negara maju? tapi faktanya pendidikannya masih rendah.

Reformasi hanya untuk kalangan elit, reformasi hanya merubah struktur politik yang ada tapi tidak merubah pada konteks masyarakatnya. Masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan ada yang mengeluarkan unek-uneknya.

"Indonesia ini sebetulnya dijajah, sedikit demi sedikit akan kembali dijajah. Saya punya sodara di Kalimantan, disana kalo kamu mau jual beli harus pakai dollar,"ujarnya tak lama mengirimkan penggalan video beritanya. Miris memang.

Tulisan ini tidak menyalahkan pemerintah tetapi hanya menanyakan apa yang menjadi cita-cita dasar negara kita kini jauh dari realita. Ini diperlukan kesadaran kita semua. Ketika pemerintah berbicara pembangunan, pembangunannya untuk siapa?

Contoh sederhananya seperti ini, pemerintah umpanya membangun jalan tol. Jalan tol dibangun untuk kepentingan masyarakat, karena dengan adanya jalan tol akan memberikan kemudahan akses bagi masyarakatnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline