Lihat ke Halaman Asli

Ajinatha

TERVERIFIKASI

Professional

Di Balik Dua Pelukan Politik Surya Paloh yang Berbeda

Diperbarui: 13 November 2019   08:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Tribunews.com

Dalam politik sebuah pelukan bisa menjadi multitafsir, karena gesture tubuh saat memeluk akan memberikan tafsir yang berbeda.

Jangankan dalam politik, dalam hubungan sosial saja sebuah pelukan mempunyai arti tersendiri. Ada pelukan yang begitu hangat dikarenakan perasaan rindu.

Ada juga pelukan penuh kasih dikarenakan perasaan cinta, dan juga ada pelukan persahabatan yang dikarenakan rasa kedekatan.

Dalam politik, sebuah pelukan akan menjadi sangat sensitif, karena terkait dengan berbagai tafsir kepentingan politik itu sendiri. Jadi tidak perlu gusar kalau ada yang menafsir dengan negatif.

Inilah kehebatan Surya Paloh, hanya dengan sebuah pelukannya terhadap Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, dia bisa menyita perhatian publik, bahkan para tokoh politik, juga perhatian Presiden RI.

Dia yang tadinya seakan terasing ditengah keramaian koalisi pemerintah, paska masuknya Gerindra dan Prabowo kedalam Pemerintahan, tiba-tiba begitu menyita perhatian.

Puncak acara kongres ke-2 Partai Nasdem, yang juga sekaligus penutupan kongres dan HUT ke-8 Partai Nasdem, menjadi akhir sebuah drama yang sudah dibangun Surya Paloh dengan Happy Ending.

Partai yang dicibir Surya Paloh sebagai Partai yang tidak memberikan teladan pancasilais, malah turut hadir sebagai Undangan, dan tidak tanggung-tanggung Ketua Umumnya, Megawati Soekarno Putri pun ikut hadir bersama putrinya yang juga Ketua DPR RI, Puan Maharani.

Ini sebuah kejutan yang luar biasa bagi Surya Paloh, karena sesuai dengan rencana, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir untuk menutup acara kongres, yang sudah dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebelumnya.

Puncak acara kongres ke-2 Partai NasDem, menjadi momentum mencairnya kebekuan hubungan politik, dan penyelesaian dari berbagai prasangka yang sempat membuat komunikasi politik menjadi disharmoni.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline