Setelah kejadian itu, hubungan kami kembali normal. Setiap sabtu sore dia mengunjungiku dengan sejuta rasa yang dia bawa. Tak terkira aku bahagia, karena untuk sampai di rumah uaku dia mesti lintas daerah. Cianjur dan Sukabumi itu tetangga Kabupaten.
Dalam batinku ingin aku mengungkapkan rasa sayangku, tak berlebihan bukan kalau aku mengucapkannya. Pengorbanan dia kan selain waktu juga biaya dan tenaga. Pernah suatu senja aku ngobrol dengan dia di teras rumah uaku.
" Cape nggak tiap Sabtu ke Warungkondang? " tanyaku sambil menatapnya. Aku harap-harap cemas mendengar jawabannya.
" Untuk kamu An, apa sih yang cape." Jawabnya sambil melirikku. " Kenapa?" Dia balik nanya.
" Nggak apa-apa . pengen nanya aja." Jawabku santai.
" Trus kalau aku bilang capek, mau gantian Ani yang ke Sukabumi gitu? " tanyanya sambil tersenyum. Aku tahu itu senyum yang menjawab bahwa aku pasti menjawab nggak mau.
" Emang kamu tega gitu ngebiarin aku jalan sendiri naik bis ke Sukabumi? " aku balik nanya.
" Ya pasti nggak lah, " Dia langsung ngejawab tanpa menunggu lama. " Aku nggak akan ngebiarin kamu naik bis berdiri satu jam diantara orang-orang. Mending aku aja yang ke sini.Aku kan laki-laki."
" Makasih ya Dang dah menempatkan aku di posisi itu." Ucapku sambil tersenyum menatapnya. Dia mengangguk sambil bergumam.
" Kapan Ani berani aku ajak ke Sukabumi? Tanyanya mengagetkanku.
" Nanti," kataku sambil salah tingkah." Kalau aku sudah berani naik bis."