Lihat ke Halaman Asli

Ramadan di Jablonna

Diperbarui: 23 Juni 2015   23:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Saya cemburu padamu saudariku ....

Musim panas di Eropa itu indah.Sepanjang perjalanan akan kau temui taman bunga dimana - mana.Pohon-pohon besar berdaun hijau berbaris rapi di sepanjang jalan. Dilengkapi dengan kursi panjang kalau hendak melepas lelah.Sepeda sewaan berjajar rapi di pinggiran taman. Seharusnya saya jatuh cinta pada negara ini.Sebelum ke Jablonna ada sungai yang memanjang, ujungnya terlihat di Warsawa.

Begitulah mata saya menyaksikan ayat-ayat Allah tergambar jelas. Gambaran fatamorgana dunia yang indah tak bisa disandingkan dengan keindahan surga yang kekal .Saya memohon pada Allah Yang Maha Kuasa agar saya masih diberikan kesempatan beribadah di Ramadan walau saya hanya sendiri di Jablonna.Bukankah surga itu seluas langit dan bumi?.Tak perlu saya bersusah hati.Ayat-ayat Allah ini penguat hati . Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (Al Baqarah: 25). Hati saya sejuk walaupun sakit di tubuh dan kerinduan yang menyesakkan dada , kabar tentang kehidupan nanti yang abadi itu adalah benar.Saya menengadahkan tangan saya ke langit .Saya berdoa agar Ramadan kali ini penuh makna walau saya tidak bisa merasakan nikmat lapar dikala berpuasa tapi saya meminta rahmat berdoa agar kesusahan saya mengandung tercatat sebagai jalan keridhoan Allah pada saya. Seharusnya saya tidak merasa sendiri . Ada amanah yang saat itu Allah titipkan dalam rahim saya .Saya berbicara kepada si kecil Aisha dalam perut dengan bahasa asli tanah leluhur saya , bahasa Ambon saya masih melekat kuat dalam ingatan.Bahwa sebentar lagi tatanya akan pergi ke Norwegia.Menjemput rizki Allah Yang Maha Luas. Aisha bergerak di dalam perut seakan memahami kegundahan hati mamanya. Iman anda akan terguncang dengan pemandangan musim panas di Eropa. Musim dimana hampir semua wanita berlomba -lomba memamerkan sebagian bahkan seluruh tubuh mereka. Para lelaki pun tak ketinggalan. Hanya bercelana pendek bahkan ada sebagian yang berjemur di taman kota . Saya juga ingin menikmati hidup walau kadang saya harus kuat di pandang orang yang berlalu - lalang ( kejadian ini persis ketika Abu Aisha di kampung saya di Ambon he he berasa di planet lain :D ). Kalau anda ingin keberkahan , habiskan uang anda untuk umroh dan jangan mengunjungi Eropa di musim panas.( ini cuman saran loh :D) . Musim ini memang panas.Sesuai sekali dengan namanya.Kehamilan saya memasuki tri semester kedua.Dan Ramadan hampir tiba.Lima hari lagi.Persiapan ruhiyah apa yang harus saya persiapkan?.Apalagi Abu Aisha akan berangkat kerja ke Norwegia. Saya sendiri di Jablonna . Jika tiada pembimbing bagi hati , maka duka saya tiada terukur. Ramadan di Jablonna.Kami ( saya dan Aisha dalam perut ) berjuang rasa ,tak ada pilihan. Jangan berharap kalau anda akan dibangunkan oleh suara adzan dikala subuh. Ini bukan Indonesia, yang dengan mudah anda bisa temui mesjid bahkan di kompleks perumahan sempit sekalipun.Ini Polandia. Tidak ada hari libur menyambut Ramadan apalagi Idul Fitri.Semuanya biasa.Musim panas ini membakar dosa.Saya terbakar cemburu pada saudari saya di kampung halaman. Dia pasti sedang sibuk mempersiapkan diri untuk sholat tarawih di mesjid samping rumah . Saya menuju lemari pakaian dan mengambil mukena saya , satu-satunya mukena yang saya bawa dari Indonesia . Hadiah adik perempuan saya .Saya pandang , lipat dan meletakkan lagi .Seakan saya ingin menunjukkan pada Aisha , ini mukena ciri khas perempuan Indonesia ketika menunaikan sholat .Ini pemberian ciocia ( baca coca seperti pada kata caca ) .Kami ( saya dan Aisha dalam perut ) duduk di depan balkon apartemen mencari suara para recitator Qur'an.Suara syeik Mishary yang merdu itu terdengar jelas dari telephone genggam yang diberikan oleh bapak mertua saya .Bukanlah bagaimana kaki saya berpijak. Tapi tentang ruhiyah kami yang minta dikasihani .Bagaimana saya menjalani Ramadan kali ini?. Jiwa saya menangis . Meratap pilu kesendirian di Ramadan. Subhanallah sebentar lagi Abu Aisha akan kembali bekerja. Jablonna Tak ada keluarga yang dekat. Tarawih di mesjid Warsawa itu mustahil dengan kondisi kehamilan saya yang selalu muntah-muntah.Membaca Al-qur'an saya tidak bisa berlama - lama . Takut kenah muntah.Jadi lebih baik saya menyetel murottal. Ramadan ....Saya di Jablonna .Abu Aisha berangkat bekerja ke Norwegia dengan penerbangan jam tujuh pagi waktu Polandia.Semalam saya bertanya kepada Abu Aisha.Apakah awal Ramadan ini saya akan sendiri?." Insha Allah Mama dan tata yang akan datang tiap hari ke apartemen". Ujar Abu Aisha.Pecahlah tangis saya.Tidak tahu lagi apa yang harus saya tanyakan. Abu Aisha masih sibuk menyiapkan beberapa kemeja yang sering dia bawah ke tempat kerja. Saya berusaha menyembunyikan tangis saya.Menahan gejolak batin saya. Namun pada akhirnya suara tangis saya terdengar jelas.Ah...., saya perempuan manja, cengeng atau apalah.Tapi kalau anda sudah menikah dan hidup di rantau, sedang hamil dan suami anda pergi bekerja di luar pulau atau luar negeri dengan waktu yang tidak terbilang singkat. Anda pasti paham rasa yang datang pada saya saat itu.Terlalu keraskah Abu Aisha pada saya?.Bukan.Keadaan memaksa kami harus menerima. Ya Allah pada engkau tempat hamba mengadu. Dia berada dalam dilema. Saya sama sekali tak ada pilihan. Abu Aisha terdiam . Memandang ke arah saya.Dia melangkah mendekati saya yang masih duduk di tempat tidur dengan arah tubuh saya yang selalu condong ke baskom plastik yang terletak di samping tempat tidur kami. Itu tempat muntah.Abu Aisha mengajari saya untuk muntah di baskom itu. Agar saat dia bekerja saya bisa sendiri berjalan ke toilet dan membersihkan tempat itu . Bagaimana dengan makanan.Bapa dan ibu mertua saya ini yang selalu datang membawa makanan. Tidak banyak kata - kata malam itu. Abu Aisha duduk disamping saya . Suaranya terdengar serak .Matanya menampakan tangis .Dia memang menangis.Ini kali pertama saya melihat suami saya menangis. Kami memang menangis.Menangisi Ramadan yang hampir tiba namun kami harus tinggal berjarak. Saya di Polandia . Abu Aisha di Norwegia. Dan awal Ramadan ini kami masing - masing harus bersabar. Apakah saya jadi pulang kampung ? . Lantas Abu Aisha bagaimana? To be continued.......... Like · 




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline