Lihat ke Halaman Asli

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Selalu berusaha mendapatkan hal baik untuk diri sendiri lalu menebarkannya ke yang lain

Semangat Belajar Perempuan di Masa Nabi

Diperbarui: 3 Desember 2020   10:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Profil Sekolah Perempuan/dokpri

Semakin jauh masa dengan nabi, semakin jauh pula moral, peradaban dan budaya Islam dari kehidupan masyarakat kita. Cahaya petunjuk nabi terasa semakin redup di tengah kemajuan zaman yang semakin terang. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Dari hal kecil sampai yang besar, baik yang disadari maupun tidak. 

Sebut saja budaya salam. Kini, budaya itu sudah sangat tipis, terkikis oleh budaya lain, bahkan hampir habis. Nyaris tak kita temukan di luar sana orang yang selalu bersalam kepada sesama. Berbeda dengan para sahabat nabi dahulu yang selalu mengucap salam bila bertemu sahabat yang lain, baik kenal atau tidak.

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit bercerita tentang kaum perempuan di masa Rasulullah SAW yang begitu semangat belajar. Mengingat, bahwa masyarakat kita, terutama di pelosok-pelosok desa, hanya turut mengikuti tren modern saja. Itupun sebagai gaya hidup, bukan kebutuhan. Sementara perspektif mereka tentang pendidikan, tetap saja terbelakang.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari (hal. 37), imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, menulis satu bab khusus tentang semangat belajar perempuan 14 abad yang lalu, dengan judul;

"Bab tentang, akankah ada waktu belajar khusus bagi perempuan (bersama Rasulullah SAW)."

Dalam bab itu imam al-Bukhari menulis satu hadis riwayat dari Abu Sa'id al-Khudriy, bahwa beliau bercerita:

: : : :

"Perempuan-perempuan mengadu kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka berkata, kami kalah oleh kaum muslimin yang banyak mengaji kepada engkau, maka mohon luamgkanlah satu hari untuk ajari kami. Kata kaum perempuan mengadu saat itu. Nabipun menyanggupi dan menentukan satu hari, khusus untuk mengajari mereka. Di pertemuan pertama, nabi memberi nasehat dan memerintahkan mereka agar bersedekah, lalu kemudian bersabda, setiap perempuan yang banting tulang menafkahi tiga anaknya, pasti amalnya akan menjadi tirai penghalang dari api neraka. Lalu, Ummu Sulaim bertanya, bagaimana kalau dua?, Rasulullah SAW menjawab, iya, dua anak juga demikian. Pungkasnya." (HR. Al-Bukhari).

Dari hadis Abu Sa'id al-Khudriy di atas, kita dapat melihat jelas semangat para perempuan muslim di zaman Rasulullah SAW dalam menuntut ilmu. Mereka tidak mau kalah dengan laki-laki yang punya banyak kesempatan mengaji kepada baginda nabi.

Ini juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam mengenyam pendidikan, setinggi mungkin. Budaya kolot masyarakat kita yang mengekang pendidikan perempuan harus diluruskan. Karena budaya itu bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW. Ingat, kewajiban menuntut ilmu itu tanpa pandang bulu dan tak terbatas tempat dan waktu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline