Lihat ke Halaman Asli

Belenggu Angan

Diperbarui: 3 Juli 2015   23:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Gerimis malam ini meninggalkan hanya sepi. Meluruh satu demi satu membawa uap-uap kesunyian yang beku. Pada beberapa tempat sebagian dari mereka terdampar, pada atap rumah, juga pada daun dan rerantingan pohon. Lalu setelah bergeliat-geliat sebentar dan berbagi kebisuan, mereka kembali luruh dan menyelusup serta-merta ke dalam bumi. Mengendap bersama jutaan tetes lainnya, yang juga membawa kesunyian.

Empat puluh delapan purnama sudah lelaki itu mengasingkan diri, setelah malam gerimis itu. Malam itu, setelah pertentangan yang panjang akan nilai yang mendalam, seseorang yang sempat begitu lekat dalam keseharian lelaki itu pergi. Tanpa gemuruh. Juga tanpa pertikaian. Yang tersisa hanya ingatan akan baju panjangnya, wajah sedihnya, juga tangis bocah yang memecah tiba-tiba.

Mendadak lelaki itu dikagetkan oleh suara pintu yang terbuka.  Refleks ia alihkan pandangan ke sana. Matanya menangkap sebuah bayangan kecil yang bergerak pelan, beringsut-ingsut di antara keremangan teras rumah.

Sosok kecil itu menghampirinya. Gerakannya agak limbung. Tapi sebelum tubuhnya terjajar ke dinding, lelaki itu dengan sigap meraihnya. Dipeluknya tubuh lembut itu dengan sayang, dibelainya, dikecupnya, dan dibawanya kembali ke dalam rumah.

Dan gerimis malam ini kembali meninggalkan hanya sepi.

***

“Alangkah cepatnya waktu berlalu,” lelaki itu bergumam sendiri. Dipandanginya sosok kecil itu, yang kini telah terlelap kembali, dengan penuh cinta. Sosok kecil yang telah begitu banyak memberinya kebahagiaan. Sosok kecil yang telah begitu banyak memberinya kenyamanan. Sosok kecil yang, sadar atau tidak, telah menjadi alasan terbesarnya untuk terus berkuat hati menjejaki kehidupan.

“Alangkah cepatnya waktu berlalu,” lagi-lagi lelaki itu bergumam sendiri. Wajahnya terlihat begitu resah. Ingatannya kembali melayang-layang.

“Jadi… kau sudah punya anak?”

“Ya, sudah hampir lima tahun,” suara lelaki itu terdengar gelisah. Dihindarinya tatapan Reda, teman kantornya, dengan menunduk. 

“Ah, sudah besar juga anakmu. Kawin muda kau rupanya.”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline