Lihat ke Halaman Asli

Agung Webe

TERVERIFIKASI

Penulis buku tema-tema pengembangan potensi diri

Jika Ada dinikmati, Jika Tidak Ada Jangan Dicari

Diperbarui: 11 Juli 2024   01:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kompas.com/ Imam Rosidin 

Saya pernah menulis sebuah koan atau pepatah: "Jika ada dinikmati, jika tidak ada jangan dicari." Namun, dalam pemikiran logis, koan atau pepatah ini sering kali ditentang karena dianggap mengajarkan untuk tidak mencari apa yang belum dipunyai, seperti target atau tujuan hidup. Kritik ini menyebabkan revisi pepatah menjadi: "Jika ada dinikmati, jika tidak ada maka carilah!"

Logika untuk merevisi koan atau pepatah ini muncul dari ketidakpahaman sepenuhnya tentang fungsi koan atau pepatah dalam kehidupan. Koan, yang berasal dari tradisi Zen, serta pepatah dalam banyak budaya, bertujuan untuk mendorong refleksi mendalam, bukan memberikan jawaban yang logis atau harfiah.

Koan sering kali tampak paradoksal atau bahkan absurd jika diterjemahkan secara logis. Contoh klasik dari koan Zen adalah: "Apa suara tepuk tangan dari satu tangan?" Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk dijawab dengan pemikiran rasional tetapi untuk memicu wawasan intuitif dan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat realitas.

Orang yang pikirannya sangat aktif atau overthinking mungkin akan memperlakukan koan atau pepatah sebagai "cacat arti"---kalimat yang tidak tepat atau menyebabkan kesalahpahaman. Mereka cenderung mencari jawaban yang langsung dan konkret, yang sering kali mengaburkan makna mendalam yang ingin disampaikan oleh koan atau pepatah.

Sebaliknya, orang yang bijaksana akan memperlakukan koan atau pepatah sebagai cermin atau alat refleksi yang dalam untuk menemukan makna hidup di balik kalimat tersebut. Mereka memahami bahwa makna sebenarnya terletak pada interpretasi yang lebih dalam dan pengalaman langsung, bukan pada terjemahan harfiah.

Pepatah; "Jika ada dinikmati, jika tidak ada jangan dicari" mengandung ajaran tentang penerimaan dan ketidakmelekatan. Dalam banyak tradisi spiritual, kebahagiaan dan kedamaian ditemukan dalam menerima apa adanya, tanpa terikat pada keinginan yang berlebihan atau pencarian yang tidak pernah berakhir.

Revisi pepatah menjadi "Jika ada dinikmati, jika tidak ada maka carilah" mencerminkan pribadi yang overthinking, yang kurang bisa memahami konteks di balik sebuah konten. Namun, perbedaan utama di sini adalah pendekatan terhadap kehidupan: apakah kita memilih untuk menerima dan menikmati saat ini, atau terus mencari apa yang belum kita miliki.

Pertanyaan akhirnya adalah: Di manakah posisi kita? Apakah kita orang yang overthinking atau orang bijaksana? 

Jawabannya mungkin tergantung pada konteks dan keadaan individu. Namun, memahami bahwa koan dan pepatah berfungsi sebagai alat refleksi dapat membantu kita mengarahkan pikiran kita ke arah yang lebih bijaksana.

Dengan merenungkan makna mendalam di balik pepatah dan koan, kita dapat menemukan cara untuk mengurangi overthinking dan meningkatkan pemahaman intuitif kita tentang kehidupan. Dalam proses ini, kita belajar untuk menerima keadaan apa adanya, menikmati apa yang ada, dan menemukan kedamaian dalam setiap momen.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline