Lihat ke Halaman Asli

Terjatuh

Diperbarui: 5 April 2024   05:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Terjatuh

Wengi sunyi, angin mendenyar,
Langkah kaki gontai, tanpa arah.
Bulan purnama bersinar terang,
Namun hati diliputi kabut kelam.

Tiba-tiba, kaki tersandung batu,
Tubuh terjerembab ke dalam lubang.
Kegelapan menyelimuti, tak ada suara,
Hanya rasa dingin yang menusuk tulang.

Di dalam lubang, rasa takut melanda,
Pikiran diliputi berbagai pertanyaan.
Apakah ini akhir hidupku?
Ataukah masih ada harapan untuk keluar?

Tiba-tiba, terdengar suara bisikan,
Suara yang tak dikenal, dari mana asalnya?
Bisikan itu berkata, "Jangan takut, aku di sini."

Seberkas cahaya muncul di kejauhan,
Semakin lama semakin dekat.
Sebuah tangan terulur, menawarkan bantuan.

Tanpa ragu, aku meraih tangan itu,
Dan ditarik keluar dari lubang.
Tubuhku gemetar, rasa lega menyelimuti.

Aku melihat wajah orang yang menolongku,
Wajah yang tak asing bagiku.
Dia adalah orang yang selalu ku nanti,
Orang yang selalu ku cari.

Terjatuh adalah bagian dari perjalanan,
Bukan akhir dari segalanya.
Dalam setiap kepahitan,
Ada pelajaran yang berharga untuk dipetik.

Terjatuh mengajarkan tentang keseimbangan,
Tentang bagaimana merangkak kembali ke atas.
Ketika kita terjatuh, kita belajar tentang kekuatan,
Dan tentang tekad untuk bangkit kembali.

Terjatuh membebaskan kita dari ketakutan,
Dari bayang-bayang kegagalan yang menghantui.
Ketika kita merasakan tanah di bawah kaki,
Kita tahu bahwa kita belum menyerah sepenuhnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline