Kompasianer's, hari-hari belakangan, hawa di Tangerang Selatan terasa panas. Bulan September ceria, dulu identik dengan musim penghujan. Nyatanya kini tidak seperti diharapkan, justru cuaca lebih panas -- kalau di rumah saya plus banyak nyamuk-.
Bagaimana, di daerah kalian?
Membaca kabar di beberapa portal online, terbetik kabar. Bahwa situasi saat ini, sebagai indikasi krisis iklim global yang melanda dunia. Krisis yang memicu perubahan ekstrim jangka panjang, ditandai dengan perubahan suhu dan pola cuaca.
Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut dan berkepanjangan, sangat mungkin berdampak pada krisis pangan. Ngeri ya, kawan.
Sebagai orang awam, saya terbayang hal yang mainstrem. Adalah kekeringan pada lahan pertanian, akibat minim hujan ditambah krisis iklim. Membuat petani tak bisa bercocok tanam, potensi gagal tanam dan gagal panen di depan mata.
Alhasil, stock komoditas pangan mengalami penurunan. Kita kekurangan bahan pangan, pun hewan dan tumbuhan.
Di satu sisi, meningkatnya suhu global dan emisi gas karbon, bisa memantik kerusakan biodiversitas. Mengakibatkan potensi terjadinya kenaikan permukaan air laut, yang merusak wilayah pesisir pantai. Dampak lebih lanjut-nya, keseimbangan ekosistem alam terganggu.
Kalau sudah demikian yang terjadi, perekonomian masyarakat sekitar pantai terancam. Nelayan terhalang untuk melaut, kegiatan pariwisata juga tidak berjalan dengan baik.
Eit's, kita bisa berkontribusi dalam skala kecil. Memulai dari hal-hal di keseharian, menerapkan dalam gaya hidup dan atau terlibat dalam gerakan green.
Banyak lo, komunitas green bermunculan dan tersebar di banyak kota di Indonesia. Komunitas yang aktif, dalam gerakan penghijauan. Seperti membawa tumbler saat bepergian, membawa tote bag saat belanja, atau gerakan lain guna mengurangi sampah plastik.