Lihat ke Halaman Asli

Agung Han

TERVERIFIKASI

Blogger Biasa

Membangun Komunikasi Saat Antar Anak ke Sekolah

Diperbarui: 21 Juli 2016   07:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suasana sebelum pelajaran dimulai, anak-anak halal bihalal dengan guru (dokpri)

Saya adalah ayah dan pekerja mandiri, cukup rajin mengantar ke sekolah anak. Tahu nama kawan akrab, bahkan nama yang sedang masuk daftar black list pertemanan anak. Saya tak canggung menyapa, ketika berpapasan dengan sahabat karib.

"Hallo Thoriq" sapa saya berpapasan di gerbang sekolah usai anak turun dari motor

Mengantar ke sekolah, adalah prosesi sederhana namun sarat nilai.  Selama di perjalanan, anak bisa berkisah apa saja yang dialami. Saya menyiapkan telinga lebar-lebar, mendengar dan memberi masukan.

Belajar dari pengalaman masa lampau, saya bertekad mengoreksi keadaan. Hubungan antara orang tua dan saya, kala itu didominasi sikap kaku. Ayah sangat kami hormati, tidak terlalu dekat secara psikologis dengan anak-anaknya. Pun ibu sebagai tumpahan cerita, beliau memposisikan hanya sebagai pendengar saja.

Mungkin akibat keterbatasan ilmu pengasuhan, mereka kurang bisa luwes mengeskpresikan perasaan. Ayah seorang guru SD pelosok desa, setia mendampingi anaknya belajar pada malam hari. Interaksi yang berlangsung, nyaris seperti interaksi guru dan murid di sekolah. Ibu yang hanya lulusan Sekolah Dasar, kurang bisa memberi pertimbangan ketika saya berbagi kisah.

"Lha menurutmu bagaimana enaknya?" jawaban yang bertanya kerap keluar dari mulut ibu.

Tapi ada sisi positifnya !

Berangkat dari keluguan dan kesahajaan itulah, saya tumbuh menjadi anak tidak neko-neko. Ketika berseragam abu-abu putih, memilih tak bergabung dengan geng nongkrong di terminal. Pun saat teman sebangku mulai merokok, tak terbersit niat mengikuti jejak mereka.

Keadaan ekonomi keluarga pas-pasan, menjadi pertimbangan utama dalam mengambil sikap. Tumbuh rasa kasihan di benak, melihat orang tua banting tulang peras keringat. Hingga terbetik satu kalimat menginspirasi, "Kalau tidak bisa membantu orang tua, minimal jangan menyusahkan"

- Merekam kisah yang jauh terlewati , saya mengambil satu kesimpulan. Komunikasi antara  saya dan orang tua, cenderung terjadi satu arah. Terutama ayah banyak pengalaman hidup, merasa paling banyak tahu. Kami anak-anaknya yang masih bergantung, tak ada pilihan kecuali mengikuti kehendak-.

Ibarat bom waktu, akhirnya meledak !!

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline