Lihat ke Halaman Asli

Agil Septiyan Habib

TERVERIFIKASI

Esais; Founder Planmaker99, dapat Dikunjungi di agilseptiyanhabib.com

Mengapa WHO Mengumbar Pesimisme Perlawanan Covid-19?

Diperbarui: 5 Agustus 2020   08:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

WHO | Sumber gambar : antaranews.com

Melalui direkturnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa saat ini dan mungkin seterusnya tidak akan pernah ada senjata ampuh untuk menyudahi pandemi virus corona COVID-19. 

Pernyataannya ini seolah-olah meredam optimisme masyarakat akan kemungkinan membalik situasi penuntasan pandemi yang selama ini diupayakan melalui penciptaan vaksin. Lebih lanjut WHO menyerukan agar setiap pemerintah negara melakukan pelacakan kontak, isolasi, perawatan, dan pembatasan.

Sah-sah saja sebenarnya permintaan ini, namun menyatakan bahwa tidak akan pernah ada senjata ampuh untuk menyelesaikan pandemi sama halnya membunuh harapan publik yang menantikan suasana bisa kembali seperti semula. Narasi new normal dengan berbagai pengetatan protokol kesehatan seakan menjadi satu-satunya pilihan menjalani hidup di era pandemi. 

Masa-masa dimana keadaan bisa kembali seperti semula seperti dinihilkan dari kemungkinan yang bisa kita raih kembali di masa mendatang. Mengutip ungkapan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, maka semestinya WHO sebagai lembaga yang mengomandoi kesehatan global menjadi pemimpin yang mampu membawa serta publik dunia kedalam optimisme dan bukan sebaliknya. Atau mungkin dibalik setiap penyataan WHO yang menggiring pemahaman publik ke arah pandemi yang tidak akan pernah berakhir memiliki maksud dan tujuan terselubung?

Ada kesan WHO meminta masyarakat dunia menjalani hidup dengan cara new normal, jaga jarak sosial, dan lain sebagainya. Narasi-narasi organisasi kesehatan dunia ini agar masyarakat dunia mengikuti protokol kesehatan dunia memang ada benarnya. Tapi menggiring pemahaman bahwa pandemi ini tidak memiliki peluang untuk dituntaskan juga bukanlah tindakan yang bijak. 

Publik tidak melulu harus dipahamkan dengan ketakutan dan ancaman. Sebuah kabar baik dan kesempatan untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang kini terjadi juga perlu digaungkan seraya terus mengingatkan akan kedisiplinan dan kewaspadaan. Apakah cara WHO mengkoordinir kesehatan masyarakat dunia hanya bisa dilakukan dengan menebar narasi pesimisme?

Hingga saat ini pemerintah-pemerintah dunia memang terkesan bersikap individualistis dalam menangani situasi pandemi. Bahkan konflik dan saling tuding antar bangsa sudah menjadi sesuatu yang jamak terjadi. Dimana peran WHO atau PBB dalam hal ini? Seperti tidak memiliki fungsi apapun. Mereka seharusnya menjadi penjembatan antar bangsa, memberi pembaruan informasi perihal upaya-upaya penangan COVID-19 di berbagai belahan dunia, dan lain sebagainya. Yang dilakukan WHO dengan secara tersirat menyatakan bahwa tidak ada jalan keluar dari COVID-19 seperti menegaskan bahwa WHO tidak berfungsi apa-apa selain penyampai informasi atau sebatas membuat status pandemi. Tidak lebih.

WHO harus bisa berfungsi lebih dari itu. Jika terus mempertontonkan sikap seperti itu maka penilaian eks Menteri Kesehatan (Menkes) kita, Ibu Siti Fadhilah Supari, bisa jadi benar. Lalu kepada siapa lagi kita harus mengarahkan pandangan jikalau organisasi kesehatan dunia saja bersikap seperti itu?

Salam hangat,

Agil S Habib 

Refferensi :

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline